Hari Minggu Dilarang Sakit*

SAKIT, demikian seseorang menyebut Godam belum lama ini. Celakanya, yang mengatakan itu adalah orang yang sedang ingin diajaknya berbagi hati. Hati yang – entah apa sebabnya – sedang ndak beres-beres amat.

Yang mengatakan itu adalah seorang gadis cantik bernama Nita, yang hhh, sudah beberapa tahun membuat Godam tak enak tidur. Membuat Godam jatuh hati, jatuh cinta, serta saban malam menghayalkan sebuah kehidupan bahagia berdua, lalu punya anak-anak yang lucu-lucu dan seterusnya dan seterusnya. Pendek kata, yang mengatakan Godam sakit itu adalah seorang gadis yang benar-benar istimewa baginya.

Bahwa Godam dibilang sakit pertama-tama karena dia bertanya: apa maksud hidup ini? Dari pertanyaan itu Godam mendapat sebuah jawaban panjang berliku yang diakhiri: tabahlah!
Puih, hidup katanya adalah ketabahan.
“Tabah? Apa itu tabah?” tanya Godam.
“Karena hidup ini pinjaman,” jawab Nita.
“Maksudnya?”
“Kita dipinjemi hidup oleh yang membuat hidup itu sendiri. Jadi syukurlah kamu ndak dikasi hidup sebagai bekicot misalnya, tetapi jadi manusia. Tetapi, dikasi hidup sebagai manusia kita juga mesti menerima konsekwensinya. Sakit, lapar, kenyang, ngantuk, ndak punya uang, jatuh cinta, patah hati, kena gosip, kena rasa iri, sedih, senang, susah, dan seterusnya sampai kita mati. Di antara semua konsekwensi itu kita hanya bisa berusaha untuk mencari jalan keluar agar bisa merasa lebih nyaman. Hanya berusaha, berihtiar, selebihnya tidak. Kemudian di antara berusaha dan hasil berusaha itulah kita mesti mengalami lagi berbagai hal yang tak selalu menyenangkan. Tetapi kita tak boleh menyerah begitu saja. Tak boleh putus asa, prustasi dan lain sebagainya. Itulah yang disebut tabah. Soalnya kita toh tidak punya kemampuan apa-apa lagi alias tidak sempurna.”
“Jadi kita harus tabah?”
“Pake tanya lagi, kamu budek ya?”
“Lho, kok sewot? Apa sewot juga konsekwensi hidup?”
“Tentu saja.”
“Berarti tabah itu juga konsekwensi hidup dong. Jadi kalau kamu bilang maksud hidup ini adalah ketabahan, salah dong.”
“Ya memang. Lalu kamu minta jawaban gimana?”
“Ndak tahu.”
Nita, mahasiswi ekonomi semester dua itu lalu membanting kakinya. Mungkin kesal.
“Kamu sakit!” ketusnya.

Godam bergeming. Gundukan tanah yang dikelilingi berbagai bunga perdu di taman kota itu pun kian gelap. Senja yang hangat kini beranjak petang. Orang-orang yang tadi cukup ramai, kini tinggal beberapa saja. Dagang bakso, es kelapa muda, rujak dorong dan sate ayam yang berderet di pinggir sudut timur taman pun tampak sudah mulai berkemas pulang. Godam menengadah ke arah selatan. Lampu-lampu merkuri penerang jalan sudah mulai menyala. Segerombolan burung seriti hinggap dengan riuh cericitnya di pelepah pohon palem di pinggir kolam. Di sebelah palem itu, di tengah-tengah kolam dengan air mancur, tegak menjulang patung Bima dalam belitan naga. Otot-otot Sang Bima tampak menonjol penuh tenaga melawan seekor naga besar yang dengan beringas hendak menelan dirinya. Gagah sekali. Sang Bima dan Sang Naga tampak sama-sama gagah. “Adakah patung itu juga lambang sebuah ketabahan? Ah, memangnya patung bisa berpikir?” Godam menggerutu sendiri dalam hatinya.

***
BEBERAPA hari kemudian ayah Godam meninggal. Godam kembali bertanya kepada Nita yang hari itu berbaju merah muda. Godam bertanya, bagaimana ya orang kok bisa mati?

Nita yang hari itu berbaju merah muda merenung cukup lama sebelum menjawab. Lalu setengah putus asa dia berujar akhirnya: Bagaimana kita tahu soal kematian, sementara hidup saja ndak dapat dipahami sepenuhnya. Bahwa kematian, sudahlah, itu hanya soal istilah. Bahwa ketika mahluk hidup berhenti bernafas, jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti bergerak, darahnya berhenti mengalir di dalam tubuh, otaknya berhenti bekerja, segala-galanya berhenti, saat itulah dia disebut mati. “Jadi kalau kamu tanya bagaimana orang kok bisa mati, ya karena jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti mengibas, darahnya berhenti mengalir dan seterusnya. Bukankah begitu?”
“Maksudku, kok tidak bisa diperbaiki, gitu,” Godam masih penasaran.
“Maksudmu?”
“Misalnya saat orang jantungnya berhenti berdetak, kok ndak bisa diperbaiki biar berdetak lagi atau diganti dengan jantung lain misalnya.”
“Lho, kan sudah? Kan sudah banyak orang yang diganti jantungnya? Kan sudah banyak orang yang paru-parunya dibetulin? Kan sudah banyak orang yang ginjalnya rusak lantas diganti?”
“Ya. Ayahku juga sudah sempat dioperasi ususnya. Kata dokter, ususnya kena kanker ganas. Harus dipotong...,” Godam tak melanjutkan kata-katanya.
“Nah itulah salah satu contoh lagi bahwa organ tubuh kita yang rusak masih bisa diperbaiki.”
“Tapi kok tetap saja mati?”
“Badah, itulah kuasa yang memberi hidup ini. Hidup ini adalah pinjeman. Kalau yang memberi pinjeman mau mengambilnya lagi, ya, awak mau bilang apa lagi?”
“Yeee, kapan kita meminjamnya? Aku ndak merasa!” Godam sengit.

Nita yang hari itu berbaju merah muda berhenti bicara. Lama ditatapnya Godam. Lalu telapak tangannya terulur dan meraba jidat Godam. “Kamu sakit. Obatnya habis ya?” tanyanya. Godam bengong.

***
TAK lama berselang, Godam kembali bertemu Nita di ..., entah di manalah. Untuk hal ini, tempat tiba-tiba menjadi tak penting untuk bernama. Sebuah tempat, mungkin bisa saja kantor, dapur, kamar mandi, jalan raya, pasar, toko, pantai, lemari baju, rak buku, halaman rumah, perpustakaan, lapangan sepak bola, telepon umum..., biarlah tetap dengan namanya sendiri-sendiri. Tetapi untuk hal ini, biarlah nama-nama itu tak disebut saja, karena sesungguhnya – hal ini – memang tak mesti membutuhkan tempat tertentu, yang khusus, walau sementara ini mungkin oleh banyak orang memang dianggap penting setidaknya sebagai saksi bisu. Tetapi bagi Godam, dan juga Nita, biarlah mereka tidak seperti banyak orang itu, tidak ikut mempermasalahkan sebuah nama untuk sebuah tempat.

Godam berkata setengah berbisik, – sebuah kalimat pendek yang sebenarnya sudah disimpannya bahkan berabad-abad – menurut perasaannya. “Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu juga jatuh cinta padaku, Nita?”

Gadis itu kaget setengah mati. Lama memandang mata Godam.
“Please, kamu kenapa, Godam?” tanyanya.
“Memang kenapa?”
“Kok kamu semudah itu mengatakan jatuh cinta?”
“Soalnya aku memang jatuh cinta padamu. Soalnya aku memang ingin yang mudah-mudah saja. Soalnya, apapun yang kita telah coba lakukan dengan penuh pertimbangan, perhitungan, pemikiran, sublimasi, pengendapan dan lain sebagainya itu, toh pada hakekatnya akan berakhir dengan mudah. Seperti..., seperti..., ya seperti segala hal. Harga-harga misalnya, betapa mudah dia naik tanpa meminta persetujuan para pembeli. Seperti hukum itu misalnya, betapa mudah dia berubah perangai tergantung siapa yang memakainya atau untuk siapa dia dipakaikan. Seperti politik itu juga misalnya, betapa mudah dia berubah arah, berkompromi tanpa harus mengingat sejarah, tanpa harus mengingat berapa harga korban yang telah ditelan demi mempertahankan ideologi yang diberhalakan sebelumnya. Juga seperti kematian itu, mudah sekali terjadinya. Lihatlah di jalanan, orang dengan mudah mati hanya gara-gara tabrakan. Di mana-mana orang mati dengan mudah hanya dengan dibacok, ditembak, gantung diri, minum racun, sakit jantung, stroke, kanker, thypus, AIDS, kolera, demam berdarah, TBC, kencing manis ...”
“Kamu sakit ya? Aduh, ke dokter yuk!” Nita menarik tangan Godam.

Untuk mempermudah persoalan, Godam menurut.

Sepanjang perjalanan ke dokter itu pikiran Godam terus berputar oleh pertanyaan-pertanyaan. Kenapa di setiap ujung pembicaraan yang begitu serius dirinya selalu disebut sakit oleh Nita? Kenapa ketika berpikir dan kerkata-kata apa adanya sesuai dengan yang ada di lubuk hati, dirinya selalu disebut sakit? Kalau misalnya semua orang punya cara berpikir, berkata-kata dan bertingkah laku seperti dirinya, akankah semua orang itu juga disebut sakit? Apakah sakit itu sesungguhnya? Apakah dirinya itu jangan-jangan sebuah penyakit?

Di tempat dokter praktek Godam tertawa. Ternyata itu hari Minggu dan dokternya tutup. Jadi, hari minggu dilarang sakit!

Suatu hari
* Judul terinspirasi dari cerpen “Dilarang Membunuh Di Hari Sabtu” karya Satmoko Budi Santoso.

7 komentar:

narti mengatakan...

perlu menganalisa tulisannya, susah dimengerti...
tapi bagus sekali...
orang seni (art) kalau menulis seperti ini ya?

Erwine Reidha mengatakan...

Saya sekarang udah kelaz 3 SMP mas...bentar lg mau sma,hehe..
Oh ya,untuk blog www.eryu3.co.cc itu sekarang udah ga jadi blog personal lagi mas,n untk blog personal bisa berkunjung ke Riedhagookil.com [baru ganti domain]

salam hormat!

Riedha Gookil mengatakan...

Kata2.a berat bangettt...hehe..kidding kok!

jengsri mengatakan...

Bli apa kabar? lama tak bersua dan gak kunjung kemari. sehatkah disana?

Cyntia mengatakan...

karya sastra yah om.. uhmm... kalo boleh tia bilang.. susah juga yah jadi orang polos :)

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

bandar bola mengatakan...

thanks gan sharing nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola
Agen Bola

Posting Komentar