Apolitis?

Apakah Pemuda Indonesia sekarang cenderung apolitis? Demikian sebuah pertanyaan terlontar dari seorang sahabat, Cerita Senja. Sebuah jawaban tegas dapat saya katakan: tidak! Anak-anak muda (sekarang) sama sekali tidak apolitis. Mereka justru sangat peduli dengan politik!

Mari kita lihat faktanya. Bahwa, hampir setiap persoalan besar bangsa mendapat respon yang begitu besar dari para pemuda. Mulai dari gerakan demonstrasi ke lembaga-lembaga negara, gerakan moral berupa pemogokan (salah satunya yang paling populer adalah mogok makan), aksi damai turun ke jalan misalnya dengan membagi-bagikan bunga, brosur dan lain sebagainya, diskusi, obrolan santai hingga celetukan bernada canda di kantin-kantin, sampai pada ekspresi-ekspresi yang bersifat sangat individu semisal membuat catatan berbentuk puisi, lagu, coretan arang di tembok, dan seterusnya.

Itulah bentuk kepedulian anak-anak muda terhadap politik. Tetapi memang, sebagian dari mereka tidak menyadari semua itu. Terutama anak-anak muda yang memilih “jalan sunyi” semisal dengan membuat catatan-catatan atas fenomena yang terjadi di sekitarnya (termasuk dalam wilayah makro: negerinya), sering kali mengatakan dirinya tak peduli dengan politik. Dalam hal ini, ada kemungkinan yang dimaksud “politik” oleh mereka adalah sebatas wacana-wacana, atau fenomena-fenomena besar, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar partai politik, istana negara, gedung DPR, atau lembaga-lembaga negara lainnya dalam lingkup lebih kecil. Mereka bisa saja tidak peduli dengan pemilu misalnya, tidak peduli dengan statemen-statemen politik anggota DPR dan para pembesar partai misalnya, tetapi mereka tetap reaktif terhadap fenomena lainnya semisal kebijakan harga BBM, kebijakan pendidikan, kebijakan pengentasan kemiskinan, pemilihan ketua RT atau bahkan pemilihan ketua kelas.

Sekelompok siswa SMP melakukan protes dengan berdemo di sekolahnya gara-gara kepala sekolah mereka diganti misalnya, sekelompok siswa SD mogok belajar gara-gara sekolahnya mau digusur misalnya, itu adalah sikap politik. Siswa-siswi SMA menggelar sebuah acara pentas musik bertema lingkungan hidup misalnya, itu adalah sikap politik. Karena di balik aksi atau kegiatan yang mereka lakukan ada maksud dan tujuan-tujuan untuk mempengaruhi atau mendapatkan reaksi (kepedulian) dalam skala yang lebih besar.

Di kalangan mahasiswa jangan ditanya lagi. Mahasiswa secara garis besar, di mana pun di belahan dunia ini (bahkan di suatu negara yang tidak menerapkan sistem demokrasi), akan sangat reaktif terhadap berbagai fenomena yang terjadi di negaranya hingga ke wilayah global. Bukankah hampir setiap hari kita menyaksikan para mahasiswa berdemonstrasi? Entah itu demo soal BBM, soal korupsi, soal-soal di DPR, hingga reaksi mereka terhadap persoalan-persoalan di luar negeri semisal Israel, Iran, Tibet, dst. Itulah reaksi dan sikap politik mereka.

Dalam semangat yang lebih individu, saat ini, seorang mahasiswa seni (sastra, teater, lukis, musik, sinematografi, dst), sudah begitu lumrah menuangkan reaksi dan sikap politik mereka ke dalam karya-karya mereka, meskipun karya-karya mereka tersebut masih berupa tugas kampus. Atau kita juga seringkali mendengar celetukan sambil lalu anak-anak muda menanggapi serta memberi komentar atas ucapan-ucapan para pejabat misalnya. Semua itu dapat dengan jelas kita saksikan.

Jadi, singkat kata, anak-anak muda saat ini sama sekali tidak apolitis. Politik justru sudah menjadi keseharian mereka, dari grafiti-grafiti hingga tulisan-tulisan di kaos yang mereka kenakan, bahkan bisa dibaca dari trend penampilan mereka saja. Trend rambut gondrong, kaos oblong kumal, celana jeans sobek-sobek, sandal jepit, sepatu butut hingga trend celana melorot yang sempat populer kemarin, bukankah itu sikap politik anak-anak muda atas segala kemapanan sosial serta tatakrama sosial yang mereka anggap munafik dan mengungkung ekspresi?

Hanya saja kemudian, reaksi dan sikap politik tersebut entah mereka akui secara resmi atau tidak. Tetapi ini tidak penting. Karena pada hakekatnya, politik adalah sebuah sikap. Seseorang bisa mengatakan dirinya golput, tetapi golput itu sendiri adalah sikap politik. Dan akhirnya, apolitis itu sendiri juga suatu bentuk lain dari politik! Begitu barangkali.
nanoq da kansas

2 komentar:

balidreamhome mengatakan...

Apolitis memang sama sekali tidak karena yang sampeyan ungkapkan adalah benar, cuma saluran yang banyak mampet serta telinga para pemimpin yang susah mendengar yang membuat banyak orang jadi patah arang dan akhirnya memilih untuk bersikap apriori serta cenderung curiga pada hal baru yang menyangkut kebijakan, semoga aja bangsa ini semakin maju dalam berdemokrasi dan benar - benar bisa secara sehat menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendak lagi :-)

Cheers Bro,

situs poker mengatakan...

Mantap gan artikel nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar