Sejarah dan Pahlawan Mereka Hari Ini

“Coba sebutkan, siapa saja nama-nama pahlawan kita?” Saya bertanya kepada segerombolan anak kelas empat sekolah dasar di sebuah tempat penyewaan play station.
“Antasari, Crist Jhon dan Mbah Marijan!” Jawab seorang anak dengan mantap.
“SBY dan Valentino Rossi juga!” Celetuk seorang anak lainnya.
“Pangeran Diponegoro, Ibu Kita Kartini, Megawati dan Pak Winasa!” Sahut seorang anak lagi.
“Ya, bagus bagus! Menurut kalian, siapa sih orang yang disebut pahlawan itu?” saya bertanya lagi.
“Orang yang berjasa!” Jawab beberapa anak hampir serentak.
“Berjasa bagimana?”
Agak lama mereka tak menjawab sambil saling pandang satu sama lainnya.

“Ayo..., berjasa bagaimana?”
“Berjasa menyelamatkan orang lain!” Seorang anak yang duduk paling pojok menjawab tanpa berpaling kepada saya.
“Berjasa mengusir penjajah!” Jawab anak yang paling dekat dengan saya.
“Kalau begitu, coba sebutkan siapa yang disebut penjajah?”
“Mahluk luar angkasa, virus komputer, teroris, dan... dan... apa lagi ya?” Seorang anak menggaruk-garuk kepala.
“Dementor!” seorang anak berteriak.
“Aduh, siapa itu Dementor?” Saya bingung.
“Itu lho Om, hantu hitam yang suka menghisap nyawa orang di film Harry Potter. Hehehe... Om gak gaul sih....”
“O ya ya ya...,” saya jadi agak malu. “Nah adik-adik, kalau orang-orang yang dulu mengusir penjajah dari negeri kita, namanya apa?”
“Veteran Om.....,” jawab mereka serempak lagi.

Setelah obrolan singkat dengan anak-anak di penyewaan play station itu, agak lama saya tak bisa tidur. Bukannya saya sedih, marah atau jengkel dengan pengetahuan sejarah yang begitu amburadul di kalangan anak-anak tersebut, tetapi saya justru merasa geli yang tak berkesudahan. Saya merasa betapa lucunya sekarang kondisi negeri ini. Betapa konyolnya kita semua, bahkan hanya untuk mengingatkan anak-anak kita tentang para pahlawan bangsa saja kita tak mampu.

Jika harus mencari-cari kambing hitam dalam konteks ini, siapakah yang harus dipersalahkan? Apakah pelajaran sejarah di sekolah? Apakah para guru sejarah? Apakah kurikulum pendidikan yang berlaku sekarang?

Saya kira kita semua tidak sedang pada posisi mencari siapa untuk dipersoalkan atau dipersalahkan. Obrolan antara saya dengan segerombolan anak-anak kelas empat SD tadi semata-mata adalah cermin dari kondisi intelektual, sosial hingga psikologis anak-anak kita saat ini. Sebab saya tidak percaya bahwa kurikulum di sekolah menghapus atau mengganti pelajaran sejarah. Saya tidak percaya anak-anak yang ada di play statition itu tidak tahu atau setidaknya tidak pernah mendengar nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Bung Tomo, Pattimura, Tjut Nya Dien, Ngurah Rai, Jendral Soedirman, dan yang lainnya.

Yang saya tidak percaya adalah, adanya komunikasi yang baik antara generasi tua (baca: para guru sekolah, para orang tua di rumah dan pemerintah yang ada saat ini) tentang sejarah bangsa ini. Sepengetahuan saya, bahkan sejak masa-masa saya masih bersekolah dulu, komunikasi tentang sejarah bangsa antara saya (kami para siswa) dengan guru sejarah hanyalah sebatas komunikasi “tugas”. Para guru bertugas menyuruh para siswa membuka halaman sekian dari buku pelajaran sejarah, sementara kami para siswa bertugas menghapal nama-nama dari halaman sekian pelajaran sejarah tersebut. Jika saya (kami para siswa) berhasil menghapal sederet nama yang ada dalam buku pelajaran sejarah tersebut, maka kami akan dihadiahi nilai yang ditulis tinta biru atau hitam, sementara kalau ada beberapa anak yang tidak berhasil mengahapal maka akan dihadiahi nilai dengan warna tinta merah.

Bahwa artinya, pelajaran sejarah yang berlaku pada setiap kurikulum pendidikan kita, telah diperlakukan tidak lebih baik dari berita-berita yang tertulis di koran-koran. Untung saja tulian-tulisan sejarah tersebut diformat dalam bentuk buku pelajaran, sebab kalau ditulis dalam format lembaran kertas besar seperti koran misalnya, saya jamin setelah pelajaran di kelas selesai maka artikel pelajaran sejarah itu juga akan segera menjadi pembungkus kacang, pembungkus baju atau pembungkus martabak telor.

Tanpa Hikmah
Sekali lagi ini adalah masalah komunikasi! Bahwa komunikasi pelajaran sejarah dalam proses belajar-mengajar bangsa kita di sekolah amatlah buruk!

Sementara itu, di luar kelas, dari halte-halte angkutan kota, warung kopi, mall-mall, ruang tamu hingga ke kamar tidur anak-anak kita di rumah, komunikasi tentang kepahlawanan model baru dengan bergemuruhnya berlangsung melalui televisi, video CD, berbagai macam game, MP3, MP4 dan sejenisnya. Hebatnya, komunikasi untuk hal ini berlangsung dengan begitu bagus dan intensnya, baik dari sisi kemasan atau penyajian, sisi bahasa atau pengungkapan, hingga visualisasi (gambar-gambar ilustrasi). Dengan komunikasi nan begitu baik serta sangat kosisten, maka tidaklah aneh jika kemudian para “pahlawan kekinian” menjadi benar-benar melekat dalam benak keseharian anak-anak.

Tidak salah jika anak-anak mengatakan bahwa para pahlawan adalah mereka yang berjasa. Diponegoro, Jendral Soedirman dan yang lainnya sudah pasti adalah orang-orang yang teramat berjasa bagi negara dan bangsa ini. Tetapi itu terjadi dulu sekali bahkan di saat kakek dan ayah anak-anak sekarang ini belum lahir. Jadi tidaklah salah pula jika mereka tidak ikut merasakan jasa para pahlawan dulu. Sementara itu buku pelajaran sejarah di sekolah kehadirannya hanya sebatas sebagai pembawa berita dari masa lampau tanpa pernah menyertakan penjelasan yang lebih masuk akal tentang bagaimana seseorang akhirnya berjasa dan menjadi pahlawan bangsa.

Komuniksi antara buku pelajaran sejarah, guru sejarah dan para murid tidak mampu menghidupkan imaji apapun tentang sebuah kepahlawanan. Tidak mampu menghadirkan seorang pahlawan pun dari masa lampau agar anak-anak kita sekarang dapat memahami kemudian merasa bersyukur atas kepahlawanan mereka. Semua berhenti pada sebuah tugas, yakni tugas menghapal!

Dalam seremoni-seremoni kenegaraan pun, pemerintah maupun warga banga ini tidak pernah mau berupaya lebih baik bagaimana caranya mengenang, mengapresiasi dan menghormati para pahlawan secara lebih iklas. Segala seremoni peringatan suatu kepahlawanan, entah apel bendera, entah kegiatan-kegiatan lainnya, hanya selesai pada teks pidato dangkal para inspektur upacara dan slogan pada spanduk yang wajib dipasang di setiap gerbang kantor pemerintahan.

“Dengan Semangat Hari Pahlawan Kita Tingkatkan Semangat Pengabdian Kepada Nusa dan Bangsa”, demikian sebuah contoh spanduk yang lazim dipasang di pintu gerbang kantor-kantor pemerintahan. Entah apa maksudnya, kita, masyarakat dan terutama anak-anak tidak mampu menangkap pesan dan hikmah apapun dari bunyi sepanduk semacam itu. Buktinya, pengabdian yang ada toh tetap segitu aja. Bahkan yang lebih parah, setelah usai apel bendera peringatan Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan, pemerintah lantas buru-buru mengumumkan rencana kenaikan gaji para pegawai negeri dan tunjangan para pejabat.

Harusnya Lebih Kreatif
Banyak hal yang lebih kreatif yang seharusnya bisa dilakukan untuk lebih memaknai Peringatan Hari Pahlawan. Dan waktu untuk itu pun cukup banyak. Taruhlah misalnya setiap sekolah setingkat SMP dan SMA menyelenggarakan diskusi tentang kepahlawanan pada setiap peringatan Hari Pahlawan. Dengan melakukan diskusi mendalam soal para pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan, memperdebatkan situasi dan kondisi pada masa-masa perjuangan mereka dulu dengan kondisi kekinian dan lain sebagainya, maka akan terjadi saling pengertian yang lebih iklas, ingatan yang lebih tebal serta penghayatan yang lebih sublim pada generasi muda saat ini tentang para pahlawan bangsanya.

Untuk tingkat sekolah dasar, para guru seharusnya bisa mengajak para siswanya berbagi cerita tentang perjuangan para pahlawan dengan pola yang lebih sederhana tetapi mendalam dan detail. Bisa saja setiap kelas diajak membuat semacam fragmen perjuangan seorang pahlawan, kemudian sesudahnya seluruh siswa diajak mengpresiasinya. Ini lebih efektif daripada mengajak para siswa menghayal hanya dengan membaca halaman sekian dari buku sejarah atau memelototi jejeran poster para pahlawan yang dipasang di dinding kelas.

Atau di jaman sekarang di mana kita semua suka sekali pada kelatahan-kelatahan dan eforia tanpa juntrungan, para guru, pemerintah dan siapa saja bisa saja mengajak para siswa untuk memasang nada dering lagu-lagu pahlawan di perangkat telepon seluler mereka pada setiap peringatan Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan dan hari-hari besar nasional lainnya. Hal ini sangat mungkin dilakukan, melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dan remaja untuk melakukan aksi solidaritas pada moment-moment tertentu. Lihat saja misalnya ketika terjadi penangkapan para biksu di Myanmar baru-baru ini, hampir setiap remaja di Indonesia ikut menunjukkan solidaritas dengan memasang pita tertentu pada baju atau di lengan mereka. Atau ketika terjadi pembantaian warga sipil dan anak-anak di Palestina belum lama ini, para elit bangsa ini toh tanpa malu-malu mengajak siapa saja untuk melakukan aksi solidaritas untuk menentang dan mengutuk kebiadaban itu. Dan yang terakhir, bukankah baru saja warga bangsa ini mengumpulkan sejuta tanda tangan untuk mendukung “pahlawan” KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah?

Jangan sekali-kali kita langsung menyalahkan anak-anak dan para remaja saat ini yang gagap pengetahuan soal pahlawan bangsa mereka. Karena kondisi dan situasi yang dibuat oleh para generasi di atas merekalah yang menciptakan kegagapan itu. Para generasi tua yang hidup saat ini terlalu rajin dan agresif menciptakan pahlawan-pahlawan instan untuk dicekokkan pada anak-anak dan remaja. Sementara itu anak-anak dan remaja kita yang sebenarnya sudah muak oleh perilaku generasi tua yang begitu masyuk berpolitik saat ini dengan diam-diam mencari pahlawan mereka sendiri, bahkan membawanya ke dalam kamar tidur hingga ke dalam dompet mereka masing-masing. Maka tidaklah pula terlalu keliru bila segerombolan anak kelas empat sekolah dasar menganggap Valentino Rossi adalah pahlawan mereka, kerena Rossi berjasa menghibur mereka dengan perjuangan gigihnya di sirkuit MotoGP. Itu misalnya!

Nanoq da Kansas
Nopember 2009

6 komentar:

Kika mengatakan...

Akan aku coba untuk mengkomunikasikannya dari mulai sekarang Bang. Kepada anak-anakku...

-Gek- mengatakan...

Aduh.. sekarang menitik beratkan pada guru ya bli?

Orang tua juga seharusnya berperan serta. Karena sesungguhnya Guru juga pahlawan tanpa tanda jasa..

Karena saya kebetulan seorang guru yang sangat menghormati perjuangan pahlawan, walaupun saya bukanlah seorang pahlawan.

Selamat Hari Pahlawan, Bli!

Sigit Purwanto mengatakan...

sekarang mereka condong kepada sesuatu yang sedang populer dan heboh, apa yang sedang terjadi hari ini atau besok harus sudah ada dalam pikiran mereka sehingga ketika obrolan di antara mereka dimulai, mereka tidak ketinggalan.

inilah yang sangat disayangkan, apakah sejarah dan cerita juga tokoh para pahlawan harus dipopulerkan dan difilmkan supaya membekas dalam pikiran generasi baru..
apa mungkin generasi baru telah terkontaminasi budaya2 baru sehingga tidak lagi ingat dengan budaya diri sendiri..sepertinya tidak juga
saya juga tidak menyalahkan siapa2. ini hanya kata2 yang sedari tadi ingin keluar dan akhirnya keluar juga, karena aku tak kuasa menahannya..

dari pada aku pusing sndiri mending mulai dari diri sendiri aja deh..hehehe

nanoq da kansas mengatakan...

buat KIKA: ya Ka, memang harus kita mulai sendiri dari diri dan keluarga. Jaman sekarang susah berharap dari lembaga, institusi ataupun mereka yang seharusnya berkompeten. Bangsa kita sekarang sedang asyik dalam kepentingannya sendiri-sendiri.

buat GEK: aku gak nyalahin guru atau siapapun, tetapi yang ingin kukoreksi adalah KOMUNIKASI sejarah kita. NEGARA, harus punya komitmen untuk MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BARU DAN LEBIH BAIK bagi sejarah bangsa ini, agar generasi sekarang tidak sekedar seperti membaca berita tempo doeloe saat membuka buku pelajaran sejarahnya. Memang, tugas tersebut barangkali harus lebih banyak dilakukan oleh para Guru Sejarah, tetapi seperti katamu juga bahwa peran (kesadaran) orang tua (keluarga) untuk mengkomunikasikan sejarah bangsa kepada putra-putrinya haruslah juga lebih baik.

buat SIGIT: Ya, anak-anak kita (bahkan juga kita sendiri) saat ini memang lebih suka menenggelamkan diri pada setiap hal baru, dan sering abai pada sejarah.

Tetapi untuk hal ini kita mestinya malu pada bangsa-bangsa yang jauh lebih maju dari kita semisal Jepang, Amerika, Inggris, Rusia dll, karena mereka sangat peduli dan hormat dengan sejarah bangsanya. Aku melihat sendiri, KOMUNIKASI SEJARAH dalam kehidupan mereka berlangsung sangat baik dan selalu masuk akal bagi anak-anak mereka. Kuncinya adalah, dalam setiap mengkomunikasikan sejarah bangsanya, para guru di sana selalu berupaya untuk mencarikan konteks kekikiniannya atas peristiwa sejarah masa lampau mereka.

Dan, aku setuju banget, bahwa memang harus kita mulai dari diri sendiri :)

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

bandar bola mengatakan...

Thanks atas sharing nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola
Agen Bola

Posting Komentar