Bintang Jatuh

SAYANG, kemana perginya bintang jatuh itu? Gadis remaja itu bertanya kepada: entah kekasihnya, entah sahabatnya, entah guru kimianya, entah guru bahasa Inggrisnya, entah kepala sekolahnya, entah bapaknya, entah ibunya, entah kakaknya, entah adiknya, entah tetangganya, entah dirinya sendiri, entah mimpinya, entah lamunannya, entah...

Maukah kamu, maukah kamu menjadi bintang jatuh itu? Menjadi sesuatu yang terbakar habis, jatuh, tetapi sempat memberikan keindahan bagi angkasa gelap sebelum akhirnya dia hilang sama sekali? Maukah kamu menjadi keindahan itu dalam pencarian jiwaku yang entah mengapa pula berabad-abad abadi? Maukah kamu menjelaskan sedikit saja, kenapa di antara kegelapan itu ada juga sesuatu yang rela terbakar demi seberkas cahaya yang toh hanya sekejap juga?

Ketika gadis remaja itu bertanya, ketika pertanyaan itu diutarakannya, sebuah televisi sedang menyala. Di tengah cahaya menyilaukan, gambar-gambar kengerian tampil silih berganti dengan narasi-narasi yang tak kalah menakutkan. Tentang perang yang masih terus meminta korban di suatu negara. Tentang bom-bom yang masih terus meledak di sebuah kota. Tentang mayat-mayat yang hangus tanpa bisa diidentifikasi. Tentang kekeringan suatu wilayah di sebuah pulau. Tentang banjir, tentang badai dan angin topan yang membunuh ribuan manusia. Tentang ratusan anak-anak yang terbunuh di sebuah aksi penyanderaan. Tentang puluhan perampokan, pembunuhan, penyiksaan sesama manusia.

Di saat yang sama, selembar koran juga sedang terbuka dan dibaca oleh seseorang. Ada gambar-gambar dan hurup-hurup yang disusun melulu dari kemarahan. Ada kalimat-kalimat yang dikutip melulu dari kecurigaan, umpatan dan kedengkian. Ada ungkapan-ungkapan yang ditulis melulu dari kemunafikan, kebohongan dan kepura-puraan. Ada juga tanda-tanda baca yang justru melayang-layang terus tak pernah bisa menyentuh bumi.

***

SAYANG, maukah kamu, maukah kamu menjadi bintang jatuh itu? Menjadi sesuatu yang terbakar habis, jatuh, tetapi sempat memberikan keindahan bagi angkasa gelap sebelum akhirnya dia hilang sama sekali? Maukah kamu menjadi keindahan itu dalam pencarian jiwaku yang entah mengapa pula berabad-abad abadi? Maukah kamu menjelaskan sedikit saja, kenapa di antara kegelapan itu ada juga sesuatu yang rela terbakar demi seberkas cahaya yang toh hanya sekejap juga? Gadis remaja itu bertanya kepada: entah kekasihnya, entah sahabatnya, entah guru kimianya, entah guru bahasa Inggrisnya, entah kepala sekolahnya, entah bapaknya, entah ibunya, entah kakaknya, entah adiknya, entah tetangganya, entah dirinya sendiri, entah mimpinya, entah lamunannya, entah...

Tentu saja saya tak bisa menjawab seandainya pertanyaan gadis remaja itu ditujukan kepada saya. Saya bayangkan, tentu akan lama sekali saya berpikir untuk akhirnya juga menggeleng serta menyerah dalam pertanyaan yang sama. Hhh...

Tetapi saya akan sampaikan sebuah analogi (yang sebenarnya tak persis demikian), sebuah kisah, sebuah dongeng. Bahwa, embun yang datang di dini hari hingga pagi, yang lalu bergelayut di ujung-ujung daun dan tangkai rumput, juga adalah sesuatu yang rela berkorban untuk menghadirkan sebuah keindahan bagi bumi. Bayangkan, apa sih untungnya sang embun bergelayut di sana kalau toh dalam sekejap ia disedot menjadi uap tak berwujud oleh sang mentari yang datang kemudian dengan tubuh panas senantiasa. Kenapa embun itu harus hadir di pagi hari? Kenapa ia bergelayut di sana, kecuali kalau engkau jeli maka engkau akan sanggup menangkapnya lalu membahasakannya dengan bunyi: keindahan!

Maka begitulah sejatinya hidup. Ada saja yang rela datang justru ketika yang kebanyakan memilih pergi. Ada saja yang rela menunggu di antara yang bosan. Ada saja yang diam ketika yang kebanyakan justru sedang riuh. Ada saja yang terjaga ketika yang kebanyakan sedang tidur. Ada saja yang tak memilih di tengah-tengah yang berebut. Ada saja yang memberi ketika yang kebanyakan menghindar. Ada saja yang jujur di saat yang kebanyakan menyembunyikan. Ada saja yang berbagi ketika yang kebanyakan berburu. Dan embun itu, juga bintang jatuh itu, sejatinyalah juga mengambil posisi pada yang antara itu.

Maka kalau boleh saya mengaku, saya mau jadi bintang jatuh itu. Saya mau jadi embun itu. Hadir sejenak bahkan sekejap, tetapi menjadi pernah ada. Mungkin memang tak banyak yang sempat memperhatikan, tetapi pasti ada yang melihat. Seperti bintang jatuh itu, mungkin hanya gadis remaja itu yang (selalu) melihatnya. (Atau mungkin kamu memang senantiasa menunggu?) Seperti embun itu, bahkan mungkin tak seorang pun yang sempat menyadari kehadirannya. Ya, saya mau jadi bintang jatuh itu!
nanoq da kansas

4 komentar:

-G- mengatakan...

Indahnya... Sebenarnya, kita mau atau tak mau, kita mmg hanyalah setetes air ditengah samudera hidup yg luas, dan sesungguhnya dari segi kekekalan bukankah hidup kita ini mmg bagaikan embun atau kilatan cahaya bintang jatuh, hanya selintas, bahkan esok juga kita tidak tahu.. Jadi, pilihan Anda nampaknya benar, walopun kalo menurut saya itu bukan pilihan tapi sudah merupakan ketetapan, hanya kapan masing2 kita menyadarinya, nah itu tuh..yg membedakan (^^,)

mingto, obsesion seleb mengatakan...

teringat dengan mantanKu nih. pas waktu di pantai tuh, tiba2 saja ada bintang jatuh gitu. Wah, kita berdua memohon agar cnta kita abadi selamanya. Mlah, dua minggu kemdian putus. he,,,,

tyas mengatakan...

aku mau jadi bintang jatuh itu... atau embun itu...
walaupun hanya sesaat keberadaannya, tapi walaupun hanya segelintir orang siapapun itu, pernah merasakan keberadaanku.. walaupun tidak diharapkan untuk kembali, tapi aku pernah ada...

paling sebel kalo dianggap gak ada oleh orang lain, apa lagi org yg deket...

situs poker mengatakan...

Mantap gan artikel nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar