Teman

Ketika dilahirkan dulu, nenek saya yang orang kampung dan percaya banget pada hal-hal yang berbau mistis, mengatakan saya sebenarnya ditemani oleh empat saudara. Tapi saya tak merasa ditemani oleh siapa-siapa. Saya tak melihat siapapun, kecuali dunia yang terlihat teramat aneh. Maka saya menangis keras-keras. Saya merasa terasing sendiri. Saya merasa, Tuhan telah menjerumuskan saya pada sebuah wilayah yang terlalu rumit untuk saya pahami.

Usia saya merangkak. Dunia yang rumit dan asing ini kemudian menyodorkan pada saya kehadiran anak-anak lain secara nyata. Masa kanak-kanak yang tak kalah anehnya itu, saya habiskan dengan bermain dan belajar bersama banyak anak-anak seusia. Lambat laun, kami pun sama-sama paham atas sebuah perbendaharaan kata: “teman”.

Maka, setelah dengan anggota keluarga, sebagian lagi hidup ini saya jalani dengan teman-teman.

Saya pernah merasa cukup banyak punya teman. Beragam usia, jenis kelamin, pekerjaan bahkan beragam agama. Beragam kesenangan, karakter, selera, sifat, kebiasaan dan seterusnya. Beragam bentuk wajah, bentuk kepala, bentuk tubuh, beragam rupa. Beragam cara bicara, cara makan, cara berjalan, cara tidur, cara mandi, beragam cara bercinta, beragam cara hidup.

Dengan teman-teman itu, saya melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kami pernah saling membantu, saling jujur, saling tegur, saling menasehati, saling memberi, saling berbagi, saling mendoakan, saling menyemangati, saling membela, saling menghormati, saling memaafkan, saling memaklumi...

Tepati sebagai manusia, kami juga pernah saling tidak membantu, saling tidak jujur, saling tidak tegur, saling tidak menasehati, saling tidak memberi, saling tidak berbagi, saling tidak mendoakan, saling tidak menyemangati, saling tidak membela, saling tidak menghormati, saling tidak memaafkan, saling tidak memaklumi...

Seiring waktu yang berjalan tak henti, teman-teman saya juga bertambah. Bukan hanya karena saya memang senang mencari teman atau berusaha menjadi teman orang lain, tetapi banyak juga yang berusaha mati-matian agar dapat berteman dengan saya, dengan suatu alasan tertentu bahkan kepentingan tertentu. Dan hal-hal semacam ini pun sungguh tidak merisaukan saya. Saya senantiasa menerima dan mengangapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Demikian pula sebaliknya, bersama waktu, teman-teman saya juga ada yang hilang. Mereka hilang dari kehidupan saya karena ada yang mati, ada yang berhenti menjadi teman saya secara baik-baik, ada yang hanya karena kawin lantas memilih berkonsentrasi penuh dengan istri atau suaminya lalu meninggalkan saya, ada yang karena sudah menjadi pejabat, menjadi pengusaha, menjadi penjahat, lalu lupa pada saya. Ada yang karena gila, ada yang karena marah, ada yang karena benci, ada yang karena merasa kalah bersaing dengan saya, ada yang karena ..., ah, masih banyak lagi alasan atau sebab lainnya yang akhirnya menghentikan per-temanan kami.

Banyak yang bilang, teman adalah kekayaan. Banyak teman berarti hidup ini gampang. Banyak teman mencerminkan bahwa diri kita adalah orang baik. Banyak teman adalah sebuah kebahagiaan. Banyak teman bahkan bisa masuk surga. Tapi saya tidak merasa begitu. Saya tetap hanya merasa biasa-biasa saja. Karena banyak teman saya pernah menjadi bahagia, senang, gembira, bersemangat dan seterusnya, tetapi juga banyak teman saya yang pernah menjadi marah, menjadi repot, menjadi sedih, menjadi sakit, menjadi benci, menjadi kacau-balau, menjadi tak bisa tidur dan seterusnya. Bahkan jujur saja, sering ketika berada di tengah-tengah banyak teman, saya justru merasa kesepian sendiri.

Maka apabila kemudian ada orang yang selama ini saya rasa sebagai teman tiba-tiba mengaku tidak mengenal saya, saya pun tak apa-apa. Tidak apa-apa. Karena memang begitulah siklus kehidupan. Karena memang begitulah kehidupan: terus berjalan, sekaligus aneh, bahkan misteri...

7 komentar:

boy mengatakan...

Tulisan yang mantap....

TH mengatakan...

the only one person who knows "how's the may to maintain a relationship" is US (ourselves)

what is "maintain a relationship" inside ? patience,honest,etc.....

because above all will make you realize that : "a friend in need is a friend indeed"

Arsyad Indradi mengatakan...

Oh ho ho ho aku juga persis seperti gitu. Bahkan yang terakhir tinggal satu-satunya teman, entah apa aku ditikam dari belakang. Ia tersenyum ketika aku menggelepar. Setelah itu entah apa aku tak mati-mati bahkan aku merasa lebih sehat dari bisanya. Habis itu aku tinggal sendiri seperti aku waktu lahir.Dan aku jadi musafir. Berjalan dan terus berjalan menyusuri rindu. Tuhan kataku : jangan kau sembunyi di balik angan-angan.Aku berpihak kepadamu.

tyas mengatakan...

teman sejati selalu ada didekat kita di saat apapun.. saat susah maupun senang.. saat diperlukan maupun tidak..
selain teman yang seperti itu, nggak usah dipikirin dia mau ngaku kenal atau nggak.. nggak ngaruh, hehe.. ya kan mas..?

-G- mengatakan...

Saya cuma berpikir, benarkah org yg bnyk teman berarti pasti org baik ya? Saya kenal org baik yg ga pny banyak teman, berarti dia mungkin ga baik... Hmm...

Kurniawan Yunianto mengatakan...

terima kasih, sobat
'hutanku' telah njenengan link di sini
selamat dalam waktu kapan saja

situs poker mengatakan...

Mantap gan artikel nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar