Kepalamu Tak Segundul Hutanku

Sekarang saatnya kita harus yakin, bahwa hutan yang gundul pasti membawa bencana. Sekaranglah kita semua, ya semua semua semua semua harus yakin bahwa pengerusakan lingkungan hidup pasti akan menyengsarakan hidup kita sendiri. Sekaranglah kita harus yakin, melihat dengan mata kepala sendiri, merasakan dengan badan sekaligus jiwa sendiri, bahwa dosa kepada alam pasti melahirkan karmaphala buruk dan kita hidup-hidup masuk neraka!

Oh, kita? Siapa kita? Kenapa kita?
Ya, memang kita! Kitalah yang telah membiarkan orang-orang sinting menebangi pohon-pohon di hutan untuk kepentingannya sendiri. Kita telah membiarkan mereka dengan alasan malas bicara, atau takut bikin perkara, atau berdalih: toh sudah ada petugas dan hukum! Kita semua, tak pernah berani tegas bersikap ketika tahu ada tetangga yang suka pergi ke hutan menjarah pohon-pohon. Kita tak pernah tegas ketika melihat ada saudara kandung, sepupu, mindon, paman, ipar, Pakde, Paklik, Paktut, Pakngah, Paktu, mondok di hutan dengan puluhan buruh penebang dan penarik gelontongan kayu yang mereka tebangi di hutan seperti menebangi miliknya sendiri. Kita tak pernah tegas bersikap ketika para oknum petugas keamanan, para oknum pejabat, para oknum penegak hukum, berskongkol dengan para penjarah hutan. Kita tak pernah tegas mempertanyakan kenapa yang tertangkap dan masuk bui selalu para kaum kecerete? Kenapa bukan para cukong yang menyuruh dan membiayai mereka untuk menjarahi hutan-hutan sampai gundul plontos itu?

Kita, ya kita semua, selalu sudah merasa lega ketika setumpuk gelontongan kayu berhasil ditangkap dan ditimbun di halaman belakang kantor polisi, atau di halaman samping kantor kejaksaan, atau di gudang yang sengaja dibangun pemerintah untuk menampung kayu-kayu hasil tangkapan. Kita selalu sudah merasa lega ketika selempir surat kabar memberitakan ada pencuri kayu yang tertangkap lalu ditahan pihak berwajib. Kita selalu sudah merasa lega ketika pemerintah mengeluarkan peraturan-peraturan atau larangan-larangan untuk menebangi hutan. Kita selalu sudah merasa lega ketika mendengar ada segelintir aktifis pecinta lingkungan melakukan penyuluhan tentang hutan, lalu mereka bersama-sama para pejabat pergi ke hutan yang sudah gundul melakukan penghijauan kembali secara simbolis dengan menanam beberapa bibit pohon sebesar kelingking. Kita selalu sudah lega…

Sementara itu, secara ajaib hutan terus saja kehilangan pohon-pohonnya. Secara ajaib bukit-bukit kehilangan kekuatan untuk menahan rembesan hujan. Secara ajaib kelestarian dan harmoni lingkungan kita terbantai!
Maka di suatu pelosok Jawa, di suatu pelosok Kalimantan, di suatu pelosok Sumatera, di suatu pelosok Bali, di suatu pelosok hingga kota-kota di Indonesia Raya, banjir bandang bisa sekonyong-konyong menyapu pemukiman penduduk hingga seluas beberapa kecamatan. Tanah longsor bisa sekonyong-konyong menyapu dan melenyapkan sebuah perkampungan. Dapatkah kita membayangkan seberapa luas “sekian kecamatan” itu, atau seberapa luas “sepemukiman penduduk” atau “sebuah perkampungan” itu? Seberapa banyak warga di wilayah seluas itu yang sebagian besar di antaranya tak pernah ikut menjarah hutan tetapi ikut tersapu air bah bahkan sampai mati? Dapatkah kita bayangkan penderitaan anak-anak balita yang mesti dibawa mengungsi ke bukit-bukit, atau ke emper-emper toko, sekolah, masjid, gereja, tidur beralas tikar atau plastik tipis bahkan tanpa sempat diberi makan karena tak ada bantuan makanan?

Banjir bandang dan tanah longsor adalah realita kesekian dari berbagai musibah kemanusiaan di negeri hijau ini. Dan terlalu nyinyir untuk menyebutkannya kembali.

Mari kita hitung saja bersama-sama, berapa kira-kira harga kayu-kayu yang telah tercuri dari hutan itu? Berapa ribu, juta, milyar dan trilyun uang hasil penjualan kayu jarahan yang telah masuk entah ke kantong-kantong siapa, entah ke dompet-dompet siapa, entah ke rekening-rekening siapa. Pasti bertrilyun-trilyun. Dan uang sejumlah itu pasti cukup untuk dibagi-bagikan kepada penduduk miskin negeri ini untuk mereka jadikan modal usaha kecil-kecilan agar pelan-pelan bisa memperbaiki hidup mereka. Uang sejumlah itu pasti cukup untuk membiayai riset dan penanganan atas berbagai epidemi semacam flu burung, demam berdarah, Aids, chikungunya, desentri, folio, busung lapar dan entah apa lagi yang kini melanda negeri ini. Uang sejumlah itu pasti cukup buat mensubsidi harga obat-obatan bagi rakyat jelata sehingga mereka tidak mengeluhkan biaya rumah sakit yang tak terjangkau dan seterusnya dan seterunya dan seterusnya!

Jumlah uang dari penjualan kayu-kayu hutan yang dijarah di seantero negeri ini, pasti cukup membantu untuk biaya perbaikan infrastruktur di daerah-daerah yang masih terisolir macam pedalaman Kalimantan, pedalaman Sulawesi, pedalaman Irian, gugusan Nusa Tenggara Timur dan seterusnya. Pasti cukup membantu untuk merehabilitasi hidup anak-anak jalanan yang tersebar di sudut-sudut kelam metropolitan. Pasti cukup membantu untuk membiayai gedung-gedung sekolah yang roboh yang lokasinya bahkan tidak jauh dari istana presiden kita.

Aduh Mak, kayanya negeri ini sebenarnya. Hanya dengan menghitung uang dari penjualan kayu-kayu hutan yang dijarah itu saja, bangsa ini seharusnya sudah bisa berbuat banyak. Belum lagi dari hasil tambang, atau hasil laut misalnya. Sungguh terlalu jauh berlebihan bila dibandingkan dengan negara Singapura yang seuprit itu misalnnya, dengan Thayland atau Korea Selatan yang nyempil itu juga. Hh…

Tetapi yang lebih menyakitkan sesungguhnya, adalah melihat nasib orang-orang yang setiap hari masuk hutan untuk menjarah itu. Setiap hari mereka masuk hutan menebangi kayu jati dan jenis-jenis kayu-kayu mahal lainnya. Tetapi nasib mereka toh tetap segitu-segitu saja. Kumal dan jelata seperti kecoa. Lalu ke mana uang hasil penjualan kayu-kayu jarahan itu sesungguhnya? Siapa saja yang menikmati? Alah, gak usah dipikirlah. Bisa gundul kepalamu nanti. Walau tak segundul hutanku!
nanoq da kansas

3 komentar:

it's bdh mengatakan...

Ndak, bukan aku yang bersalah dengan melakukan pembiaran atas penebangan hutan dan pengrusakan lingkungan, tidak juga aku bersikap apatis dan cuek - bebek dengan keadaan alam negriku yang sudah tidak seramah ketika aku masih bisa kencing sambil lari - lari...

Tapi tanganku dan mulutku bahkan kepalaku yang dulu dipasung oleh sistem yang serakah, tamak, loba dan bengis.... setelah mereka puas maka kini cuma derita yang disisakan bagi siapapun yang akan mendiami negri ini dimasa depan, dan kita juga yang harus membersihkan bekas berak mereka.... memang harus kita bersihkan karena kalau tidak negrikua akan sangat bau!! bau tangisan, bau penderitaan, bau kesengsaraan..... karena sebenarnya Alam-lah yang bisa mencipta, alam-lah yang bisa memperbaharui, bukan saya, kita dan kalian yang hanya sekedar numpang dan minta kehidupan kepada sang Alam....

"let's lend a hand to preserve mother nature"

Cheers,

Rudi Kuswanto mengatakan...

sya dukung bli...

tapi sayang dukungan saya yang paling lemah tingkatannya..

karena saya bukan pejabat pemerintahan yang bisa menggunakan kekuasaan, bukan pula politisi yang bisa mempengaruhi dan melakukan bargaining politik...

ya cuma dukungan dari seorang blogger itupun blogger yang tidak terkenal lagi...hiks sedih pingin berbuat sesuatu tapi apa daya tangan seolah tak sampai...

situs poker mengatakan...

Mantap gan artikel nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar