Dongeng

“CERITAKAN padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian pesan pendek itu tertulis dalam layar handphone-ku. Di bagian atas pesan itu tertera nama seorang gadis remaja yang belum lama ini aku kenal di suatu tempat di kotaku.

Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana aku menunggu sebuah kereta berangkat ke Banyuwangi kemudian akan menyambungkan perjalananku ke Bali dengan bus milik perusahaan kereta itu juga, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.

Apa gerangan maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Aku tak segera menanggapi pesan pendek itu. Dalam gemuruh hujan yang kian deras, aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan saat aku mengenalnya pertama kali.

***

SETELAH merangkai kembali kepingan-kepingan kenangan perkenalan dan perjumpaan kami yang hanya beberapa kali selama ini, aku masih bertanya-tanya sendiri, penasaran. Apa maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Adakah ia pikir aku selama ini tukang dongeng? Ataukah dia sedang menyindir bahwa apa-apa yang aku kerjakan sebagai penulis lepas selama ini hanya dongeng? Aku jadi gelisah. Kalau demikian, berarti aku harus bertemu dengannya, menjelaskan bahwa semua yang menjadi tulisan-tulisanku di koran itu fakta adanya. Sama sekali bukan dongeng. Bahwa, aku bukan pendongeng.

Ah, tiba-tiba dia memintaku mendongeng. Jangan-jangan dia serius dan memang ingin sekali didongengi. Tapi kenapa dia menyuruhku dan bukan orang lain? O, mungkin dia tidak punya orang lain. Setidak-tidaknya, mungkin dia tak punya kakak atau ibu atau nenek yang bisa mendongeng untuk dirinya. Baiklah, aku siapkan sebuah dongeng. Di dalam kapal saat suatu kali menyeberang di selat Bali, aku pernah membeli sebuah buku dongeng. Aku masih ingat beberapa dongeng di dalamnya dan bisa saja aku ceritakan pada gadis remaja itu sekarang.

Tapi tunggu! Jangan-jangan dia benar-benar sedang menyindirku. Dengan kata yang lebih kasar, sesungguhnya dia berkata bahwa apa yang kukerjakan selama ini yang kemudian kusebut sebagai esai, opini dan sebagainya itu baginya tidak lebih sebagai sebuah dongeng pengantar tidur. Sialan, aku tersinggung. Aku bingung.

“Tapi, memang adakah yang bukan dongeng di dunia ini? Apakah yang sesungguhnya bukan dongeng?” Seorang perempuan tua di sebelahku – yang sama-sama menunggu kereta berangkat – yang dengan terpaksa aku tanyai dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, balik bertanya.
“Tentu saja banyak, Bu,” jawabku hormat.
“Apa misalnya?”
“Hm, banyak. Banyak sekali. Misalnya...,” entah kenapa aku tiba-tiba lambat sekali berpikir.
“Ayo, apa yang bukan dongeng? Demokrasikah? Pemerintahkah? Ataukah barangkali rakyat macam kita yang bukan dongeng?”
“Astaga, Bu! Saya, saya hanya....”
“Sebentar! Saya juga mau tanya kepada sampean, apa yang bukan dongeng?” Perempuan tua itu bertambah ngotot.

Aku mulai merasa njelimet. Hanya gara-gara bertanya dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, seorang perempuan tua bahkan tiba-tiba menjadi begitu marah. Maka aku diam. Aku biarkan entah apa lagi yang dikatakan perempuan tua di sebelahku itu.

Aku jadi teringat berbagai berita buruk yang aku tulis dan juga ditulis teman-temanku sesama wartawan di berbagai media massa. Ada yang menulis berbagai bencana, soal kemiskinan, ketidakadilan, soal korupsi di berbagai instansi, manipulasi besar-besaran di berbagai bank dan di berbagai sumber keuangan milik negara. Adakah berita-berita mereka itu telah bisa memperbaiki atau setidaknya merubah keadaan menjadi lebih baik? Ada juga yang menulis soal berbagai pembunuhan di berbagai tempat. Apa pula maksudnya? Adakah laporan-laporan mereka itu untuk membuat orang-orang menjadi ngeri dan menyadari bahwa pembantaian itu adalah sesuatu yang keji dan tak manusiawi? Tetapi kenapa setiap keesokan harinya masih saja ada pembunuhan dan pembantaian-pembantaian baru yang kembali ditulis dan diberitakan? Bahkan, kenapa dalam sebuah bangsa terus saja ada pembantaian satu sama lain yang tak kunjung henti? Kenapa sebuah bangsa bisa saling bantai dan saling melenyapkan satu sama lain?

Aku makin jelimet. Kalau begini terus aku bisa mampus sendiri di tengah-tengah tertawaan orang yang melihat aku sebagai binatang aneh dengan sesuatu yang keluar menjulur-julur dari kepalaku.

Maka, baiklah adik, aku dongengkan saja untukmu sesuatu yang paling sederhana: cinta!

Dan kereta api berangkat. Maka dalam kereta yang bergemuruh merangkaki malam itu aku pun mendongengkan sebuah cinta. Aku terus mendongeng, sampai gadis remaja itu benar-benar terlelap di sebuah kamar, entah di mana.***

Surabaya – Bali, suatu malam
nanoq da kansas

13 komentar:

goenk mengatakan...

dongeng tentang cinta memang harus slalu didongengkan om. soalnya bangsa kita haus akan cinta terutama dari pemimpin kita... bener ga om?

Linda Belle mengatakan...

waaa....keduluan goenk nih pdhl mo pertamax hehe...

bli' udh baca panjang2 ternyata dongengnya kembali ke laptop..eh ke cinta...

bener bgt bli'..coz love is essential..haha..

zener_lie mengatakan...

dongeng dengan cinta. hmmm memang dibutuhkan agar tidak hanya mengetahui sisi buruk tapi sisi yang indah juga dan berharap mereka berbuat segala sesuatu menjadi indah seperti cinta itu sendiri.

tapi satu hal lagi. dongeng baik karena ada pesan moralnya tapi kadang kala buruk juga jika tidak memberikan sesuatu yang nyata dan masuk akal.

The Dexter mengatakan...

terima kasih sudah menceritakan padaku sebuah dongeng... hangat disini.
bang, sudah selesai aransirnya?

JengSri mengatakan...

Akhir ceritanya nyebelin karena sedikit rahasia ;).

Ku tunggu dongengmu selanjutnya Bang.

ipung mengatakan...

Hampir saja aku terlelap didongengkan tentang...
Cinta? Oh my dog..

mocca_chi mengatakan...

rasanya gadis itu tidak akan suka kalau didongengkan tentang cinta, karena jika ia meminta dongeng, itu berarti dia ingin mendengar sesuatu yang lebih di dunia ini, yang hadir bukan karena kibasan tangan manusia.


hemm... salam kenal ya, saya link blognya ^ ^

bdh mengatakan...

hmm dongeng tentang cinta memang bisa mempesona, membius, menyedihkan tapi tidak ada yang tidak ingin mendengarnya...

lain kali ceritakan padaku teman :-)

tukang nggunem mengatakan...

mendongengkan dan didongengi tentang cinta adalah hal yang paling menyenangkan. Kita bisa menmukan sedih senang bercampur menjadi satu ramuan indah yang disebut cinta...

melati mengatakan...

Maaf bli baru sempat comment... Betul bli, saya rasa dengan cinta semua masalah akan bisa diselesaikan deh... cinta diri-sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, umat manusia... kalo cinta pasti ga semau gue... jadi ada kendali gitu loh... (sok tau ya...)

vin mengatakan...

aku ingin mendengar dongeng tentang cinta itu....

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

bandar bola mengatakan...

Terima kasih sharing nya gan :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola
Agen Bola

Posting Komentar