Sulitnya Penghargaan untuk Kesempatan

Salah satu kambing hitam dari pengangguran adalah karena tidak adanya kesempatan. Bahwa seseorang, bahwa beribu-ribu orang, sama sekali tidak punya kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam sebuah aktifitas bernama pekerjaan. Bahwa seseorang atau ribuan orang tidak mendapat kesempatan untuk menjalankan profesi, keahlian, kebisaan, skill-nya untuk menghasilkan sesuatu buat biaya menghidupi dirinya.

Maka ketiadaan kesempatan itu pun lantas menjadi alasan seseorang atau ribuan orang untuk menjadi apatis, membunuh daya hidupnya sendiri, untuk akhirnya menjadi orang mati ketika jiwa dan raganya masih hidup, ketika jiwanya tetap meminta fasilitas kesenangan, ketika raganya tetap meminta fasilitas pakaian, makanan, rumah, kendaraan, pacar, istri dan seterusnya…

Kesempatan memang sulit. Apalagi kesempatan yang diharapkan dari pihak lain. Syaratnya bermacam-macam dan pasti dibuat-buat. Untuk bisa mendapat kesempatan menjadi buruh angkut karung di pasar saja ada syaratnya, setidaknya badannya kekar. Untuk mendapat kesempatan menjadi guru, syaratnya harus bersekolah guru, punya ijasah, punya titel yang sesuai dengan profesi guru. Untuk punya kesempatan menjadi dokter, orang harus bersekolah bertahun-tahun, keluar banyak biaya dan otaknya encer. Untuk punya kesempatan menjadi polisi, orang harus punya fisik dan mental yang sempurna dan juga uang yang banyak. Untuk punya kesempatan menjadi petani, orang harus bisa mencangkul, tahu nama-nama tanaman, tahu musim, tahu jenis tanah, tahu obat pembasmi hama, dan lebih baik lagi kalau punya kebun atau sawah.

Tapi ini bertele-tele. Saya juga telah sering bertemu dengan orang-orang yang tak pernah mengeluh soal kesempatan. Mereka ada yang putus sekolah, ada pula yang punya ijasah bahkan sarjana, ada yang muda, ada yang tua. Saya bertemu mereka pada kesempatan-kesempatan dan tempat berbeda. Ada yang saya temui pagi-pagi di jalanan sedang membersihkan jalanan kota. Ada yang saya temui di tempat penampungan sampah di halaman belakang kantor saya sedang memilah-milah sampah, mencari benda-benda plastik atau kertas untuk dijualnya. Ada yang saya temui sore-sore di taman sedang mendorong gerobak rujak atau mengayuh gerobak bakso. Ada yang saya temui di perkampungan penduduk sedang menjadi kuli kasar bangunan. Ada yang saya temui di pusat-pusat perbelanjaan sedang menyodor-nyodorkan berbagai brosur suatu produk kepada siapa saja yang lewat. Ada yang saya temui di sebuah ujung jembatan kota sedang menjual mainan anak-anak yang semuanya dia buat sendiri dari barang-barang bekas. Ada yang saya temui malam-malam di perempatan pinggir kota sedang mengojek. Banyak lagi. Banyak lagi yang saya temui dengan berbagai profesi sederhana tanpa mereka pernah mengeluh kepada saya tentang sulitnya kesempatan bekerja.

Di sisi lain, di berbagai kantor resmi, kantor pemerintah maupun kantor suasta, saya melihat banyak sekali juga orang-orang yang sudah diberi kesempatan. Mereka mendapat kesempatan untuk belajar dan bekerja serta digaji. Tetapi apa yang terjadi? Bertahun-tahun saya melihat fakta bahwa mereka yang telah diberi kesempatan itu ternyata tidak mempergunakannya dengan baik. Pada kesempatan yang telah diberikan kepada mereka, mereka justru kehilangan penghargaan kepada kesempatan itu sendiri. Ada komputer nganggur misalnya, bukannya mereka pergunakan untuk belajar memperdalam sesuatu yang produktif lewat komputer, tetapi mereka habiskan jam-jam dengan bermain game. Kalau tidak bermain, mereka cuekin itu komputer, lalu bergerombol di sudut ruangan sambil ngerumpi tentang hal-hal yang sama sekali tidak berguna bagi kemajuan kehidupan mereka.

Selalu saya melihat, orang-orang yang sudah mendapat kesempatan justru melecehkan kesempatan itu. Bahkan untuk sedikit merapikan kantor atau ruangan tempat mereka bekerja saja mereka enggan. Harus digetok dulu, baru bergerak. Maka saya berpikir, kesempatan yang diberikan kepada mereka-mereka itu harusnya dicabut saja, lalu berikan kepada mereka yang belum pernah mendapatkannya. Begitu seterusnya!
nanoq da kansas

17 komentar:

bdh mengatakan...

hmm kesempatan sudah semakin sombong dan angkuh, tetapi masih saja ada dan dekat disekitar kita, tetapi rasanya aku akan berguman apa iya memang cuma kesempatan yang harus menanggung semua beban dan dipersalahkan? sebab masih ada satu hal lagi yang juga harus ikut bertanggung jawab; 'kreatifitas' saya rasa ini yang lebih bertanggung jawab, sehingga banyak sekali orang yang hanya menyalahkan 'kesempatan' tanpa mau untuk bersusah payah menggunakan kreatifitasnya untuk melakukan sesuatu dan merubahnya menjadi 'kesempatan untukmu' :-)

nanoq da kansas mengatakan...

to BDH:
Yap! Aku setuju banget!

tyas mengatakan...

sebetulnya kesempatan kerja masih sangat banyak.. hanya saja, bukan kerja yang diinginkan, didambakan dan diimpikan oleh para pengangguran itu...

aku juga pengeeen banget kerja jadi presdir perusahaan gede yg gajinya susah buat diabisin... tapi 'kesempatan' utk itu nggak ada... yang ada di depan mata adalah beribu2 kesempatan lain yg terbuka.. bodoh kalo aku nggak mengambil semua itu, tapi memilih utk tetap bermimpi...

Dexter mengatakan...

Sepertinya, taman baca di hati bukan lagi sebuah fenomena alam di setitik sanubari orang, tapi sebuah kebutuhan untuk membuka luas mata setiap pribadi dengan menegakkan membaca apapun di sekitar.
Benar saudara BDH, kreatifitas tidak akan menjerumuskan kreatornya. Malah akan semakin membesarkannya. Setuju.!

Harry Seenthings mengatakan...

wuealah...kesempatanm kerja mah banyak bli.....

boyke satria negara mengatakan...

benar, saya justru sudah jungkir balik menghargai kesempatan...hampir semua pekerjaan di tempat kerja saya kuasai. Dari mulai pekerjaan staff sampai pekerjaan manager. Datang paling awal, pulang paling akhir. Dengan konsisten. Nah, justru pula kesempatan yang tidak pernah menghargai saya....?
hmmm...ini seperti kejadian alam..?

melati mengatakan...

kebanyakan manusia sekarang pengin yang instant aja sih... pengin cepat kaya, pengin cepat tenar, pengin itu, pengin ini; kurang bisa menghargai proses... jadinya kesempatan yang kecil kurang dihargai... jadi seharusnya ada kesempatan (biar kecil sekalipun), kreativitas, ketekunan, dan kesabaran; Insya Allah sukses!!!
(tapi sebetulnya biar kita orang biasa-biasa aja yang penting bahagia, sehat, dan bermanfaat bagi orang di sekitar kita...)

haris mengatakan...

kadangkala mereka yang diberi kemudahan dan kelapangan memang tak bs merasakan bahwa keduanya merupakan sebuah kenikmatan, mas. paradoks ini biasa terjadi pada kita juga, kan?

Angga Wijaya mengatakan...

Bli Nanoq lagi sebel sama anak-anak yang ndak mau beresihin kantor ya?

ipung untuk senja mengatakan...

Suatu hari saya melihat orang2 mengantri puluhan meter untuk sekedar mendapatkan kesempatan yg katanya datang hanya sekali. Kesempatan itu bernama: tes cpns, intrview di outsource, atau diskon besar2an di hypermarket terbesar.
Ada juga yg duduk gemetaran dgn ijazah dipangkuan, menunggu sebuah kesempatan..
Dia hanya bisa menunggu kesempatan itu datang.
Ada lagi org yg tdk mau jd pengecut. Yaitu org2 yg tak mau hanya menunggu kesempatan. Mereka langsung bergerak menciptakan kesempatan itu sendiri. Mereka baru lu2s kuliah tp tdk menunggu ada lowongan, mereka ciptakan lowongan krja u/ dirinya sendiri dgn bisnis kecil2an.
Lalu mau seperti apa kita? Mengantri u/ dptkan secuil kesempatan dgn probabilitas nihil, atau duduk menunggu kesempatan itu datang? Atau malah menciptakan kesempatan itu sendiri?
Jawabannya ada pada diri temans...
Regards,

Reza Fauzi mengatakan...

hm.... lama gak kesini.... semoga sehat selalu ya.... :D

tukang Nggunem mengatakan...

Saya juga tidak ingin terjebak bersama orang-orang yang hanya menunggu kesempatan itu, saya akan bikin sebuah kesempatan untuk diri saya sendiri, dan kalo mungkin untuk orang lain...

www.katobengke.com mengatakan...

memang yah sekarang banyak orang yang bekerja hampir tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang ia geluti semasa menempuh pendidikan...
aq juga heran apakah ini kesalahan orang tersebut atau siapa..???
ini banyak terjadi di lingkungan kita termasuk saya sendiri......
bahkan dilingkup pemerintahan hal ini banyak sekali didapatkan kejadian ini.....

urbanaik khumaida mengatakan...

yah....apa yang perlu sampeyan umbar selain tubuh dan ketelanjangan seorang wanita yang begitu harum!
yang mungkin sampeyan akan tiba-tiba merasa "inilah surga yang sesungguhnya, tentu! inilah surga yang terlahir dari telapak kaki ibu"

hmmm...ah, aku rasa, aku memang kurang tidur.
mari! kamar saya tidak jauh dari kota sampeyan!

memecahsenyap mengatakan...

Bli Noq, apa kabar? Tiang mangkin di Yogya. Salam dari Yogya bersama Ibed

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

bandar bola mengatakan...

Terima kasih sharing nya gan :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola
Agen Bola

Posting Komentar