Maaf, Saya Cuma Mimpi!

Tanpa sebab yang jelas, seorang gadis remaja telah memimpikan saya mati.

Tanpa sebab yang jelas pula, sebelum kokok ayam jago tuntas menyambut subuh, mimpi gadis remaja tentang kematian saya itu telah menyebar ke seluruh kampung, lalu menyebar ke seluruh wilayah kota kecil kami. Maka seluruh mimpi di kota kecil itu pun menyeragamkan temanya menjadi hanya soal kematian saya. Kendati jalan ceritanya tidak persis sama, tetapi sekali lagi, mimpi di kota kecil itu benar-benar cuma satu tema: tentang kematian saya!

Ada mimpi yang menceritakan bahwa saya mati muda karena sakit yang tidak bisa diobati baik oleh dokter maupun dukun. Ada mimpi yang bercerita saya mati karena ditembak oleh entah siapa karena saya terlibat dalam suatu huru-hara. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena kecelakaan lalu lintas. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena diracun oleh entah siapa pula. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena bunuh diri. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena tenggelam di laut saat menumpang sebuah kapal. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena memang sudah tua dan sudah saatnya mati. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena cinta. Ada mimpi yang menceritakan si pemimpi itu sendiri sedang membunuh saya. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena dibunuh oleh mimpi itu sendiri.

Siang hari di saat jam-jam orang-orang bekerja, kantor-kantor, pasar, sekolah, rumah sakit, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat kemaksiatan hingga ke kuburan-kuburan pun dipenuhi oleh obrolan dan cerita mimpi tentang kematian saya. Kendati tidak terlalu mengganggu aktifitas maupun rutinitas masing-masing, setiap orang dengan berapi-api mereferentasikan mimpinya secara sabar dan bergantian sesuai giliran. Dan saking banyaknya yang harus bercerita, siang itu tak ada yang mempergunakan jam istirahat dan jam makan siangnya di luar lingkungan kerjanya masing-masing. Sambil terus saling menceritakan mimpinya tentang kematian saya, setiap orang beristirahat sekaligus makan siang di tempat kerjanya masing-masing. Pokoknya, udara siang itu menjadi hanya dipenuhi oleh satu jenis gema suara: cerita mimpi tentang kematian saya dengan berbagai versinya!

Maka sore harinya, ketika orang-orang tak sengaja bertemu saya di persimpangan jalan pusat kota yang ada trafick light-nya, mereka langsung menyetop saya. Tanpa peduli perbuatan mereka telah memacetkan lalu lintas, mereka mengerubungi saya di bawah lampu pengatur lalu lintas itu. Tanpa sengaja mereka membuat lingkaran dan menempatkan saya persis di tengah-tengahnya. Lalu mereka bertubi-tubi dan serempak menanyai saya tentang kematian saya yang sesungguhnya. Mereka serempak membuka mulut, bicara, bercerita, mencocokkan mimpi masing-masing, lalu bertanya mana yang paling benar atau setidaknya mendekati kebenaran. Suara mereka jadi baur dan geremeng memenuhi udara. Saya terkesima memandang mereka, sekaligus kebingungan untuk menjawab. Saya berdiri terpana lama sekali.

“Begini, karena terus terang saja kami tak begitu percaya oleh mimpi-mimpi itu, jadi karena kebetulan kita bertemu di sini, kami ingin mengkonfirmasi mengenai kematian anda yang sebenarnya,” demikian kemudian seorang bapak yang berpakaian safari dan memakai pin tanda jabatan wakil rakyat, berbicara mewakili yang lainnya dengan sopan dan hati-hati sekali, setelah dalam waktu yang lama melihat saya tak bisa menjawab.
“Maaf, sebenarnya maksud anda semua ini apa?” saya bertanya.
“Kalau bisa dan kalau boleh, kami hanya ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Bukan yang seperti diceritakan mimpi-mimpi kami itu,” lanjut bapak itu.
“Maaf, kejadian mengenai saya yang mana?”
“Kejadian sebenarnya tentang kematian anda!”
“Maaf, anda telah membuat lalu lintas di sini macet total. Kenapa anda semua tidak menghubungi saya lewat telepon saja?”
“Oh, ya ya! Ah, kami lupa. Jadi kami akan menghubungi anda lewat telepon saja,” sahut bapak itu cepat dan langsung disetujui oleh yang lain.

Mereka pun langsung membubarkan diri. Kemacetan lalu lintas perlahan cair kembali, karena kini mereka tak lagi numplek di tengah perempatan tetapi memilih menyebar di sepanjang trotoar, di sepanjang emper toko, di bawah-bawah pohon peneduh yang sayangnya sudah tidak seteduh awalnya lagi. Di sana mereka serempak memencet sederet nomor pada telepon genggamnya masing-masing.

Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif
Maaf, jurusan yang anda tuju sedang sibuk…

***

Mungkin karena selalu dijawab mesin dengan: maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk tersebut, orang-orang sekota kecil itu pun menjadi kesal dan marah. Mereka jadi kehilangan kesabaran. Mula-mula mereka mengomel, menggerutu, ngedumel, memaki atau mengumpat para profider telepon seluler yang dalam setiap iklannya di televisi selalu menjanjikan sinyal yang kuat serta berbagai kemudahan dan kemurahan fasilitas tetapi dalam kenyataannya bohong belaka, akhirnya mereka serempak membanting telepon-telepon genggamnya. Ada suara benturan dengan: tembok-tembok, trotoar, aspal, kaca jendela, daun pintu, batu-batu…

Dan kini mereka kembali ke dalam mimpi-mimpinya! Barangkali mula-mula hanya untuk melupakan kekesalan. Tetapi bertambah lama mereka justru kian asyik dan tenggelam. Dan karena keasyikan, mereka pun akhirnya melakukan segala sesuatu dengan mimpi-mimpi yang setiap saat dapat mereka atur sesuai selera masing-masing. Dengan mimpi-mimpi yang bisa diatur sedemikian rupa itu, kini mereka bebas memperlakukan dirinya sendiri dalam impian nan tak terbatas. Entah mereka mau membunuh orang lain, mau menghidupkan orang yang sudah mati, mau menjadi kaya, mau menjadi penguasa, mau menjadi atau mau membasmi teroris, mau menjadi pemberontak, mau menjadi pahlawan, mau menjadi orang suci, mau kembali muda, mau melengserkan pemimpin, mau bermain cinta dengan siapa saja, mau menjadi mimpi itu sendiri, kini mereka bebas sepenuhnya.

Ironisnya, di tengah-tengah eforia mimpi-mimpi itu, ternyata mimpi mereka tentang kematian saya itu malah lenyap begitu saja. Lenyap dari ingatan mereka, lenyap dari kepedulian mereka. Ini bahaya! Saya harus mengingatkan mereka! Maka saya mengambil telepon. Memencet sederet nomor…

Maaf, nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan…

nanoq da kansas
negara, suatu hari

17 komentar:

G mengatakan...

Hahahahaaa... Yups yups yups saya mengerti..

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

aih! mimpi2? ayo bangun buka mata, buka mata!. bangun2! gak bisa! aduh maaf bli aku mimpi. aku mimpi baca tulisan ini. ini benar tidak? pertanda apa? buruk apa baik? kau nulis ini dalam mimpi ata tidak? aku mimpi apa tidak ini? aduh bangunin aku bli.

The Dexter mengatakan...

Aku belum bisa merusak tulisanmu bang hahaha... eh iya, semoga selasa bisa sampai ke Bali yah.

balidreamhome mengatakan...

sebuah cerita dari seseorang yang menderita karena koneksi internetnyan tiba - tiba meninggal karena kekuatan alam :-)

Semoga lekas pulih ya Bro, salam juga buat keluarga...

zener_lie mengatakan...

apa arti semua ini????

cuma mimpi......

haris mengatakan...

matinya cuma mimpi, kan mas? gapa2. di sisi lainnya, mimpi kan juga bs berarti harapan. itulah kenapa sy membangun "rumahmimpi". he2.

Harry Seenthings mengatakan...

walah mimpinya panjang buanget nih bli,
eh bli maaf nih baru bisa mampir lagi, kemarin suibug buanget

boykesn mengatakan...

ada apa dengan wakil rakyat....bukankah jika menghubunginya nada mesin penjawabnya: "nomor yang anda tuju pura-pura sibuk..?"

tukang Nggunem mengatakan...

mimpi2 itulah yang sebenarnya membuat kita hidup di dunia ini, bahkan mimpi tentang kematian sekalipun...

The Journal of Balinese Girl mengatakan...

Hai Bang, untung hanya mimpi ya..
Puisi2nya bagus banget bang
Salam kenal

Seneng uy kenal abang
kasih comment tulisan gak penting saya ya..
gimana menurut abang?
Apa kurangnya?

makasih..

debrian mengatakan...

enak lho kl mimpi :D

gdwgdw mengatakan...

mimpi..mimpi..mimpi..
setidaknya sy ingin bermimpi malam ini..
(_ _) zZz..

Lala mengatakan...

waaaa...patut bersyukur tuh kak, soalnya berdasarkan primbon jawa betaljemur, orang yang diimpikan meninggal akan berumur panjang......
selamet ya
(?)
hi5

Ingrid mengatakan...

hehe, aku jadi ingat puisiku sendiri, dulu tahun duaributuju.

Psychobabble Dreams


pemimpi bermimpi impiannya diimpikan pemimpi lain lagi
mimpi mimpi dalam gelembung cahaya kecil besar melembung keluar
dari kolam pikiran, seperti mendidih,
bola udara sarat makna melayang
melayang terbang ke permukaan
membawa mimpi
mimpi
tarr !
ada yang pecah
terburai menjadi entah
mungkin hawa gundah


kau bilang aku pemimpi
tapi aku tak sendiri*




*baris ini kupinjam dari liriknya John Lennon (Imagine)

dan aku setuju bahwa kalau kita 'diimpikan' meninggal oleh orang lain, artinya umur kita panjang, amiiiin.

salam

tyas mengatakan...

kalo dimimpiin mati... katanya berarti umur panjang ya mas.....
enak bener kalo kita bisa mengatur mimpi kita kaya cerita di atas.. nggak akan ada nightmare lagii.. hihi...

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

bandar bola mengatakan...

Terima kasih sharing nya gan :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola
Agen Bola

Posting Komentar