Sedikit-sedikit Pungli

Saya termasuk orang yang jarang kaget. Tetapi Senin kemarin saya benar-benar kaget membaca sebuah berita di sebuah koran lokal (Bali) dengan judul besar: “SMAN 1 Negara Diguncang Pungli”.

Saya termasuk orang yang kurang suka membaca koran lokal (yang profit oriented maksudnya). Karena isinya berita buruk melulu. Sementara setiap berita baik, pasti ada tanda bintangnya. Walaupun memang tidak semua koran lokal menganut “kebijakan tanda bintang bagi berita baik”, tetapi toh dalam pikiran sederhana saya, bahwa setiap suatu kebaikan, bila ingin diberitakan di koran harus ditandai “bintang”. Entah apa artinya bintang, saya juga tidak peduli. Yang jelas, sekali lagi, tidak ada berita baik di sini kecuali yang berbintang!

Tetapi dengan judul berita tersebut, hari itu saya terpaksa suka membaca koran lokal. Saya penasaran, masak bekas almamater saya (kendati saya tidak pernah tamat dari sekolah itu), terimbas masalah pungli yang termasuk bagian kriminal juga? Saya penasaran!

Waduh, ternyata yang disebut pungli itu tiada lain adalah upaya penarikan sumbangan oleh Komite Sekolah kepada setiap orang tua/wali murid kelas satu, untuk menunjang kelancaran proses belajar-mengajar dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah bersangkutan. Dan seingat saya, saya sendiri ikut saat rapat rencana penarikan sumbangan itu, karena saya juga menjadi orang tua siswa di sana. Dan seingat saya, pertemuan atau rapat penggalangan sumbangan itu sudah melalui musyawarah-mufakat oleh seluruh peserta rapat yang hadir. Di samping itu, rapat juga sudah melalui proses tanya-jawab yang cukup panjang, baru kemudian semua peserta rapat sepakat dan berkomitmen akan menyumbang. Saya termasuk salah satu orang tua siswa yang setuju untuk menyumbang, dengan satu tujuan agar proses pendidikan di SMA Negeri 1 Negara dapat berjalan lebih baik, sehingga anak saya, anak kawan saya, anak tetangga saya, anak kenalan saya dan anak-anak siapa saja yang bersekolah di sana bisa mendapat pendidikan yang lebih berkualitas lagi!

Saya juga semangat ingin menyumbang, walau uang untuk menyumbang itu sendiri mungkin saya pinjam dulu dari teman atau tetangga, karena saya ingin berpartisipasi dalam pendidikan di daerah saya, ingin membantu kepala sekolah dan guru-guru di sana agar lebih leluasa mengajak para siswanya berkreatif dan berinovasi di bidang pendidikan. Saya semangat menyumbang, karena saya merasa selama ini saya sudah sangat banyak dibantu oleh pemerintah (kabupaten) dalam menyekolahkan anak-anak saya. Saya semangat menyumbang karena saya sudah lama tidak bayar SPP, uang gedung dan uang BP3, jadi secara logika saya sekarang bisa menyisihkan sedikit penghasilan saya. Daripada saya pakai beli togel atau yang nggak-nggak lainnya, mendingan saya sumbangkan ke sekolah. Ya, sekali-sekali saya juga ingin membantu, biar saya tidak terlalu berdosa karena terlalu cuek dengan proses pendidikan anak-anak saya.

Maka ketika selesai membaca berita tersebut saya makin heran. Dalam berita tersebut, konon para orang tua siswa keberatan dan mengeluh dengan sumbangan itu, karena hal itu sebuah tindakan pungli alias pungutan liar.

Saya tak habis pikir, orang tua mana yang mengeluh itu? Kenapa baru sekarang bicara sambil menyembunyikan identitas dirinya? Kenapa tidak terang-terangan saja bilang tidak setuju saat dalam rapat? Sensasi apa sih yang ingin dicapai oleh yang mengaku “orang tua siswa” itu? Sementara, jika kita bicara soal keluh-mengeluh, apapun saya ini memang layak dikeluhkan. Kita juga harus mengeluh dengan harga beras dan sembako yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan bunga cicilan sepeda motor yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan ongkos main di time zone yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan harga semen, pasir, batu bata, genteng, baju, celana dalam, shampo, obat kurap, obat panu, dsb dsb dsb yang semuanya tinggi! Semua layak dan harus dikeluhkan. Tetapi, apakah biaya untuk membangun serta mendapatkan pendidikan yang baik dan lebih berkualitas bagi anak-anak sendiri juga harus dikeluhkan? Maaf, bagi saya: tidak!

Sekarang yang ada di benak saya justru perasaan takut. Saya takut, apabila segala sesuatu dengan mudah disebut pungli, tentulah akan ada dampak lain. Apalagi ini dunia sekolah, dunia pendidikan. Kalau sebuah penggalangan sumbangan yang bahkan sudah secara blak-blakan dibahas dalam pertemuan atau rapat dan disetujui bersama demi peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri masih juga dikategorikan pungli, bagaimana nanti nasib dunia pendidikan kita? Kasihan benar para kepala sekolah dan guru-guru, kasihan benar pengurus Komite Sekolah yang harus hanya menadahkan tangan dan menunggu lalu menunggu kemudian menunggu dan seterusnya menunggu pemerintah untuk mencari jalan keluar bagi penunjang sarana dan prasarana sekolahnya.

Aduh, apa-apa kok dibilang pungli. Sedikit-sedikit pungli! Memang mau gratis semuanya? Memangnya gak mau nyumbang? Boleh boleh sajalah, tapi bilang dong secara terus terang, jangan sembunyi sambil menuduh sembarangan! Pendidikan anak-anak kok dipake main-main? Jika semua disebut pungli, bagi saya, menuntut lalu memungut pendidikan berkualitas dengan gratis melulu, itu juga memungut secara liar alias pungli!
nanoq da kansas

5 komentar:

cerita senja mengatakan...

teringat kasus di sekolahku juga. tapi tak sampai masuk koran sih jaman itu.

orangorang yang mengaku orang tua itu protes atas kebijakan komite sekolah menaikkan SPP, padahal sudah ada rapat sebelumnya,dikasi ruang buat dialog tapi mereka tak mau kasi ide/solusi/alternatif atau mengemukakan ketidaksetujuan. pas udah jadi, baru deh protes..

eh tapi bukannya kebanyakan orang lebih suka protes belakangan ya bli, daripada turut serta 'merumuskan' peraturan/kebijakan

yah, kecuali barubaru ini ttg RUU aneh bin ajaib itu hehehehe

wendra wijaya mengatakan...

Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..
Pungli..

Btw, yang bisa dikatakan pungli tuh apa aja ya?

Kalau sekarang merebak isu pungli seperti itu, yang bisa dijadiin kambing hitam sapa ya? Orang yg mengaku orang tua siswa atau media yang kurang jeli melihat permasalahan?

Entahlah!

bagus al haqq mengatakan...

hahahah
tuh sekolah juga bisa bikin gempar pembaca ternyata
untung yg nulis bukan wartwan infotainment

boy mengatakan...

kayaknya wartawan tersebut alih profesi nulis naskah sinetron aja kali ya...? Kan gk perlu investigasi,
tinggal ngayal....jual....

situs poker mengatakan...

Mantap gan artikel nya :)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar