Membaca Semesta

Saat itu saya baru pulang dari Kendari – Sulawesi Tenggara, dan sedang transit di Bandara Hasannudin-Makassar. Bising dan pengap berbaur. Di ruang besar ber-AC itu, ketebalan kaca jendela yang besar-besar tak sanggup meredam gemuruh pesawat yang datang, pergi atau sekedar memanaskan mesinnya. Ketebalan kaca jendela yang besar-besar itu tak sanggup meredam panas matahari jam dua belas siang yang memantul dari landasan parkir dan landasan pacu. Kaca jendela yang besar-besar di ruang tunggu itu tak sanggup meredam pantulan percakapan orang-orang dan suara sambung-menyambung pengeras suara dari bagian information.

Saya mulai gelisah. Bingung karena tak tahu harus mengerjakan apa. Saya gelisah karena tak terbiasa selama tiga jam tanpa melakukan apa-apa. Sementara di ruang tunggu itu, tiap-tiap orang ada temannya. Tiap-tiap orang ada pasangan ngobrol, pasangan duduk, pasangan mondar-mandir. Entah dengan temannya, entah dengan suami atau istri, entah dengan anak, entah dengan teman biasa, entah dengan pacar, entah dengan selingkuhan, entah dengan bos, entah dengan tetangganya. Hanya saya yang benar-benar sendirian. Celingukan. Melihat setiap etalase, tetapi tak melihat setiap yang ada. Sampai lelah, lalu saya kembali duduk di antara mereka yang terus berceloteh.

Tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Rupanya sejak tadi kami duduk berdampingan tapi saya tak memperhatikannya. Usianya saya taksir lebih dari lima puluh lima. Tanpa diminta dia bercerita tentang perjalanannya. Bahwa katanya hari itu dia terbang dari Bali. Mampir sebentar di Makassar, lalu sekarang hendak terbang lagi menuju Jakarta. “Wah, anda sibuk sekali ya?” Saya mengomentari ceritanya. Dia tertawa, lalu mengatakan bahwa sebenarnya dia tak sesibuk orang lain. “Bedanya lagi, sampean melakukan perjalanan jauh seperti ini dengan menghabiskan uang sendiri, sedangkan saya ada yang ngongkosi dan mendapat imbalan atas pekerjaan saya ini,” ujarnya mantap.

Saya mulai tak tertarik lagi ngobrol dengannya. Saya menebak, pasti dia ingin bercerita tentang bisnisnya sebagai... entah seorang motivator, entah makelar, entah seorang fasilitator, entahlah. Saya menebak, obrolan selanjutnya pasti akan rumit.

“Saya lihat sampean tadi suntuk di etalase buku-buku itu. Sampean suka membaca? Sampean kutu buku?” dia membuka obrolan lagi. Saya jawab bahwa saya memang suka membaca dan merasa membutuhkan bacaan setiap saat. Saya katakan pula: “Tetapi saya tadi tak membeli buku. Harganya mahal-mahal.”

Dia tertawa.

“Sampean tiap saat membaca buku?” tanyanya lagi.

“Tidak. Karena saya juga menulis. Saya juga main drama. Saya juga bertani. Saya juga main musik. Saya juga kadang-kadang melukis. Saya juga bekerja di suatu kantor. Saya juga sering hanya melamun,” jawab saya.

“Kalau begitu, karena begitu banyaknya kegiatan sampean, sampean sebenarnya tak butuh buku untuk dibaca.”

“Kenapa?”

“Sampean tak perlu beli buku. Orang macam sampean cukup belajar dengan membaca alam semesta saja. Wah, maaf, pesawat saya sudah mau berangkat. Selamat membaca semesta buat sampean. Semoga beruntung,” ujarnya sembari mengambil tas kecilnya dan pergi melewati gate menuju sebuah pesawat yang sudah bersiap akan terbang ke Jakarta.

Sampai di rumah, saya kembali sibuk. Banyak pekerjaan di kantor yang harus saya selesaikan. Banyak tugas-tugas rumah yang menuntut dikerjakan. Saya tak ingat apa-apa lagi selain mengerjakan tugas-tugas itu.

Tapi suatu sore seorang teman datang. Dia membawa banyak sekali buku-buku. Buku-buku sastra, agama, sosial, sejarah, politik, hukum, sampai majalah-majalah terbitan luar negeri. Kami bertemu di taman kota. Saya ditawarinya untuk membeli. Saya beli beberapa buah sampai tas kesayangan saya yang kecil kepenuhan dan terasa berat menggelayut di pundak. Tapi saya senang. Koleksi buku saya bertambah, walaupun saya terpaksa harus pulang untuk makan siang dan makan malam. Soalnya, uang saya habis untuk membayar buku-buku itu.

Lalu saya lupa lagi. Karena banyak pekerjaan dan kegiatan yang harus dilakukan. Sampai teman yang membawakan buku-buku itu menelepon. “Bagaimana? Puas dengan buku-bukunya? Sudah dibaca semua?” tanyanya memberondong. Saya kaget. Tak bisa menjawab, dan merasa malu karena ternyata saya lupa membaca buku-buku itu. Mungkin beberapa saat saya terdiam.

Lebih kaget lagi ketika teman itu berujar dari telepon nun jauh di sana: “Tidak apa-apa! Kalau pun belum sempat membaca, itu tidak apa-apa. Anda sebenarnya cukup dengan membaca alam semesta saja!” Lalu dia tertawa. Dan kali ini tertawanya lain dari biasanya, persis sekali dengan tawa orang tua yang saya jumpai di bandara itu. Dan entah karena kenapa, saya tiba-tiba merasa lega sekali. Saya raih tas, dan segera berangkat dengan motor kesayangan. Saya lupa entah akan kemana...

dusun senja suatu hari

8 komentar:

-G- mengatakan...

Wow... membaca semesta, pasti tidak akan pernah habis2 ya mas, soalnya semesta itu kalau dari sudut pandang saya, indefinite (^_^) Cool!!!

boykesn mengatakan...

Kok aku ingat judul puisi seperti ini, tapi lupa...karya siapa yang jelas pada sebuah antologi puisi perjalanan milik sanggar minum kopi:
Menulis Puisi
Membuka cakrawala
Membaca Sejarah

he...he..apa hubungannya dengan tulisan diatas ya...?

Tukang Nggunem mengatakan...

Hmmm...saya tertegun membaca cerita sampeyan ini...bukan soal kawan sampeyan yang berbicara sama persis dengan orang yang sampeyan temui di bandara namun ide tentang membaca semesta itu...

Sebuah gagasan sederhana yang brilian, yang mungkin tidak pernah kita sadari... Banyak orang yang mengaku kutu buku menghabiskan berbuku-buku dalam satu minggu, namun perasaannya menjadi tidak peka...tidak peka dengan lingkungan, alam, dan sekitarnya...

Terimakasih sudah berbagi pencerahan salam hangat selalu

tyas mengatakan...

aku juga hobby baca mas... makanya senjata andalan kalo pergi ke bandara n harus nunggu berjam2 ya buku itu.. kadang novel, kadang buku tanaman hias, kalo sekarang lagi mempelajari buku 'palmistry', membaca sifat dari garis telapak tangan, hehe.. iseng aja..

ttg membaca semesta... mmh, gimana sih maksudnya mas..? aku jadi nyadar kalo nggak pernah relaxing, ngobrol dg alam, mendengarkan semesta..

Putu Wira mengatakan...

wah2,,sepertinya bli udah dapat guru baru,, ha2, ya walau ga jelas...anik katanya k jkt, tp pt belum ktemu, pak sayoga juga..,,whh bli nanoq terus berkelana,,,SMANGAT!!!!!!!!!!

erwein mengatakan...

makud,y apa mas tentang membaca semesta??
tp...tulsan,y bagus lho... hehe.. lagi online nih,,

habbats ramdhan mengatakan...

Terima Kasih sudah posting artikel yang bermanfaat. Semoga Sukses dan Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini
MaduHabbatussaudaJual Minyak HabbatussaudaMinyak ZaitunProduk HabbatsProduk HerbalObat HerbalHabbatussauda Dosis TinggiHabbats.co.idHabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwareMadu Anak SuperMadu Anak CerdasJual Madu Anak SuperPusat Jual Madu Anak SuperJual Madu SuperMadu Anak SuperJual Madu AnakToko Madu AnakAgen Madu Anak SuperDistributor Madu Anak Super

agen poker mengatakan...

Semua Artikel anda begitu luar biasa dan sangat menginspirasi (y)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar