“Valuable Lessons to Learn Now from The Sudan Conflict”

Sudan, mungkin sejak lama dilupakan oleh mesyarakat dunia jika tak terjadi konflik di Darfur. Beberapa waktu lalu, saat turut berpatisipasi dalam konferensi di luar negri, saya memiliki kesempatan berjumpa dengan seorang professor dari barat yang diutus oleh PBB untuk membantu menyelesaikan sengketa di Darfur.

Sang professor, seorang ahli masalah Sudan, tak habis pikir, “Orang-orang yang bertikai di Darfur itu semuanya Muslim, bahkan mereka berasal dari sekte yang satu dan sama pula.”PBB memperkirakan konflik tersebut telah menyebabkan 500.000 nyawa melayang akibat tindak kekerasan dan wabah penyakit dalam rentang waktu kurang dari 5 tahun. Bahkan dari pihak LSM menyatakan bahwa jumlah korban meninggal setidaknya 2 kali lipat dari yang perkiraan PBB. Jutaan orang mati sia-sia.

Kekeringan dianggap sebagai salah satu penyebab utama konflik di Darfur. Pendudukan local Banggara dari Darfur terpaksa memindahkan peternakannya ke arah selatan. Di daerah yang dikuasai oleh komunitas tersebut memicu terjadinya konflik di Darfur. “Sekarang”, ujar Sang Profesor, “tak jelas siapa berperang melawan siapa. Orang-orang yang berasal dari komunitas yang sama bisa saling bunuh-membunuh hanya demi sepetak tanah dan sebuah sumur.” Sekretaris jendral PBB Ban Ki-moon menganggap pemanasan global sebagai penyebab konflik di Darfur.

Tapi, pertanyaan pokoknya ialah: Apakah Sudan, di seluruh dunia, satu-satunya negara yang menderita kekeringan? Jawabanya: Tidak! Jadi, konflik di sana sama sekali tak masuk di akal.

Rakyat Sudan, di bawah pemerintahan Presiden Omar al-Bashir, bukanlah negara demokratis. Pejabat yang tak populis ini telah dihukum karena kejahatan perang melawan rakyatnya sendiri oleh Dewan Kriminal Internasional.

Anehnya, ketika hakim Luis Moreno-Ocampo meminta kepada anggota Dewan yang sama untuk mengeluarkan surat penahanan terhadap al Bashir, ia justru dikritik habis-habisan. Siapa para pengkritiknya? Kenapa mereka membela si diktator dan bukannya memihak rakyat Sudan? Apa kepentingan mereka?

Baru-baru ini, Sudan dilaporkan menyewakan lebih dari 800.000 hektar tanahnya yang paling subur kepada Saudi. Mengikuti kerajaan yang memimpin monarki kaya minyak tersebut, beberapa Negara Teluk, termasuk Mesir, sedang dalam proses menekan kesepakatan serupa. Diharapkan ratusan ribu hektar tanah lainya akan segera disewakan pada akhir tahun ini.

Masa kontraknya mancapai 99 tahun. Paling tidak dua generasi rakyat Sudan akan hidup menderita karena keputusan yang dibuat oleh pemimpinnya tersebut.

Sudan tak terserang kekeringan separah yang kita bayangkan. Sudan masih memiliki banyak daerah subur, yang tanahnya bisa diolah untuk kepentingan masyarakat di Darfur dan tempat-tempat lainya. Ironisnya, pemerintah Sudan tak tertarik melakukan hal tersebut. Mereka lebih suka menyewakan tanah pada Arab. Masyarakat internasional, termasuk Paman Sam kita tercinta dan koleganya tetap diam menyikapi masalah ini.

Pertambahan penduduk yang begitu cepat di daerah Teluk, kelangkaan air, dan inflasi harga pangan memaksa Arab untuk mengembangkan pertanian di luar negeri. Tak hanya di Sudan, tapi juga di negara-negara lain, Pakistan juga menjadi salah satu targetnya.

Berdasarkan laporan dari Komoditi Online, inflasi di Saudi telah menyebabkan masyarakat diam (apatis); ini ancaman bagi pihak monarki, yang di atas segalanya sangat takut pada revolusi.

Menurut data dari think tank Pusat Penelitian Teluk di Dubai, Arab Saudi membutuhkan 1.212 meter kubik air tanah untuk memproduksi 1 ton barley. Hal ini menyebabkan Saudi tak memiliki pilihan lain selain berhenti mengolah tanah di wilayahnya sendiri. Mereka musti mencari sumber pasokan pangan di tempat lain.

Tak banyak dari kita yang tahu bahwa inflasi di kerajaan tersebut mencapai angka 10,6 persen pada bulan Juni lalu. Alasanya: harga kebutuhan pangan melonjak.

Situasi di negara-negara Teluk lainya tak lebih baik, karena 60 persen bahan pangan mereka pun harus diimpor. Kita juga banyak yang tak tahu bahwa di Uni Emirat Arab sana hanya 1 persen lahan yang bisa ditanami, sedangkan di Arab Saudi sedikit lebih baik, angkanya mencapai 3 persen.

Daerah Teluk memang tak kondusif untuk mengembangkan pertanian, sehingga masyarakat di sana sangat tergantung pada bahan pangan impor, mereka mampu membeli di pasar bebas dengan harga internasional tanpa banyak kesulitan.

“Tetapi, kalau di masa depan minyak dan sumber alam lainnya habis, maka daerah ini tak akan bisa mempertahankan tingkat ketergantungan pada persediaan bahan pangan dari luar tersebut,” ujar Shoaib Ismail, seorang agronomis kondang yang tergabung dalam Internasional Center For Biosaline Agriculture di Dubai saat diwawancarai oleh Inter Press Service.

Ismail juga mengatakan bahwa negara-negara Teluk telah bekerjasama dengan negara-negara berkembang yang memiliki budaya, agama, dan latar belakang politk yang sama, dan dengan mereka pula sudah meneken kesepakatan jangka panjang. Ditambahkan, “Mereka dapat memperoleh bahan mentah dengan harga yang relatif murah, dan ini bisa mengurangi ketergantungan pada negara-negara barat…”

Mari kita membaca tulisan di atas dinding. Apa yang sebenarnya terjadi di balik konflik Darfur? Pada 1970-an negara-negara Teluk tak berhasil percobaannya untuk merubah Sudan menjadi keranjang makanan mereka setelah Amerika mengancam hendak menghentikan pasokan makanan serta memboikot produk minyak. Saat itu mereka gagal, sekarang mereka berhasil.

Sekarang, apa sebenarnya yang terjadi di balik konflik-konflik di Negara kita ini? Apa sebenarnya yang terjadi ketika para pelaku bom Bali menikmati status sebagai tamu-tamu negara, RUU porno, dan isu “aliran sesat”? Pertimbangkan juga meningkatnya kunjungan pejabat kita ke Timur Tengah, dan petro dollar yang dikuncurkan atas nama agama, pendidikan, dan tentu saja investasi.

Terima kasih kepada ketidaksadaran kita dan kealpaan pejabat serta pemimpin kita, pelan-pelan seluruh bangsa dan negara diperbudak baik secara budaya dan ekonomi. Kekuatan kegelapan dari iblis dan kepentingan pribadi bekerjasama untuk memecah-belah bangsa ini, sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk menguasai sumber daya kita. Kita, rakyat Indonesia harus bangkit dan bersuara lantang melawan kebatilan semacam itu. Dan, waktu untuk melakukan itu ialah saat ini, atau tidak sama sekali.
Anand Krishna* Aktivis Spiritual

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice Kupang,
ini pertama kalinya saya ke Kupang. You now what?saya lihat sendiri Kupang tidak sekering yg didengungkan orang, Kupang tdk semiskin yg dibicarakan orang, kupang tak setandus Jimbaran Bali, Kupang... sangat Kaya, kaya akan budaya, kaya akan kekayaan alam minyak bumi, Uranium diperbatasan, Mangaan, pasir, batu marmer, kerakal berwarna, pulau2 nan indah, kain ikat dll.. ini membuatku semakin mencintai negeriku..aku pernah berkunjung lama di negeri orang dengan panas 43-44 derajat celcius, negeri orang yg kering budaya dan tandus akan pepohonan, negeri yg para lelakinya hanya mengurus syahwatnya,jauh berbeda dengan negeriku ini. tapi Kupang, wow...Surga di katulistiwa...perjalanan yg manis.. kenali negerimu,cintai negerimu, slogan yg sgt tepat saat ini, hingga kebanggaan muncul dari diri kita.

Salam Indonesia!
chicha

Anonim mengatakan...

pro chicha:
sungguh, kita anak-anak bangsa indonesia memang insan yang sangat dimanja oleh Tuhan. dikaruniai tanah, samudra dan udara yang penuh rahmat. dilahirkan sebagai insan yang begitu leluasa berekspresi dalam kebhinnekaan. tetapi begitulah pula kita, terutama para elit, selalu silau dengan fatamorgana dari luar, bahkan dalam kesilauan itu kita hendak merubah karunia ini menjadi sesuatu yang sama sekali bukan kesejatian kita sebagai bangsa yang berdaulat dalam kebersamaan.

para elit kita dengan dukungan segelintir orang yang tak punya jiwa nasionalisme Indonesia, dengan iming-iming surga dari sudut pandang mereka sendiri, perlahan tapi pasti merongrong rasa cinta dan kegembiraan yang ada di negeri ini untuk kepentingan kekuasaan mereka.

jika ini tidak disadari dan kesadaran ini tidak segera dikabarkan kepada seluruh anak-anak bangsa Indonesia, maka kita dan keindonesiaan pun akan musnah, bahkan sejarah hanya akan menyisakan kobaran api, dendam dan kebencian antar sesama anak bangsa dalam setiap lembarnya.

salam Indonesia! hormat untuk kebhinnekaan kita, Indonesia!

Rudi Kuswanto mengatakan...

Saya jadi teringat film Avatar yg jd favorit tiap pagi. Jadi meskipun Raja Api Ozai mengancam negara2 lainnya, rakyat yang tertindas masih mempunyai harapan kepada Ang, Sang Avatar Terakhir yang dipercaya akan bisa mengembalikan dan menjaga keseimbangan dunia.

Sayang cuma film..ya bli...

boykesn mengatakan...

Saya punya teman namanya "gadis Sudan" demikian dia menamakan dirinya. Dia ceritakan keluarga dan Negaranya "sudan"
Kalau tidak salah seperti ini saya tangkap dari kata-katanya:

Deare,
boyke_pesaji

I am more than happy in your reply to my mail. How is your day?.
Mine was hot over here in Dakar Senegal.My name is Suda Diagne (23) single and
never married, i am from Liberia in west Africa and presently i am residing in
the refugee camp here in Dakar Senegal as a result of the civil war that was
fought in my country.believing god that one good day by his grace i will be
delivered from this situation. My late father Dr Diagne Lincoln was Assistant
managingdirector of Liberian Forestry Development Authority (FDA) and Ministry of
Commerce and Industry, in monrovia succeeded by the Chairman Dr Robert Tarlor
the Brother of the former head of state (Charles Taylor) before the rebels
attacked our house one early morning killing my mother and my father. It was
only me that is alive now and i managed to make our way to near by country
Senegal where i am living now as a refugee. I would like to know more about
you. Your likes and dislikes,your hobbies and what you are doing presently. I
will tell you more about myself in my next mail. Attached here is my picture
and i will like to see yours,
Hoping to hear
from you soonest.
Yours baby girl

Miss Suda Diagne.

chicha mengatakan...

Menyedihkan, jgn kita biarkan para pemimpin dan calon pemimpin menggadaikan tanah2, air, udara dan budaya kita. Kita renda kembali hubungan bathin dan bhakti (dalam segala bidang yg kita geluti)kita dgn ibu kita Ibu Pertiwi..

Sudan contoh nyata konspirasi investor2 asing yg tidak memperdulikan rakyat Sudan. semoga bumi pertiwi terbebas dari hal serupa..

chicha

agen poker mengatakan...

Semua Artikel anda begitu luar biasa dan sangat menginspirasi (y)

Agen Bola
Agen Poker
Agen Sbobet
Agen Judi Bola
Bandar Bola
Situs Taruhan Bola
Website Taruhan
Website Taruhan
Agen Bola
Agen Poker
Bandar Bola

Posting Komentar