Bandit Juga





Kemarin, Sabtu, 17 Mei 2008, jam 18.00 Wita, sepulang dari kantor, aku melihat seekor anak anjing kebingungan dan ketakutan di tengah-tengah jalan PB. Sudirman, depan Toko Gayatry’s - Negara. Untunglah kendaraan-kendaraan yang melintas mau mengerem dan minggir. Di kiri-kanan jalan, orang-orang yang kebetulan baru keluar dari Rumah Makan Padang, orang-orang yang kebetulan berada di halaman parkir praktek Dokter Dangan Gunaya, orang-orang yang kebetulan keluar dari Gayatry’s (termasuk beberapa karyawannya), tercekat menyaksikan kejadian itu. Beberapa di antaranya berusaha memanggil-manggil anjing kecil itu agar keluar jalan. Tapi dia malah bertambah kebingungan.

Sementara di pinggir utara jalan, induk si anjing kecil juga panik. Dia sudah berusaha membujuk anaknya agar ke pinggir, tapi karena beberapa supir truk, sedan dan minibus tidak cukup sabar untuk tidak segera menjalankan kendaraannya, anjing kecil itu tak juga berani beranjak, justru tengkurap di atas garis putih putus-putus as jalan.

Aku yang memarkir motor di pinggir selatan jalan dan juga menyaksikan kejadian tersebut sekitar dua-tiga menit dengan berdebar takut, mengangkat tangan tingi-tinggi untuk memberi tanda kepada para supir agar memberi kesempatan buat saya untuk mengambil anjing kecil itu. Lalu disaksikan belasan pasang mata di kiri kanan jalan, aku ambil anjing kecil yang gemetar ketakutan itu, aku gendong ke halaman toko.

Ironisnya, ketika anjing kecil itu sudah aman di halaman toko, induknya malah pergi menjauh. Aku dan para karyawan toko memanggil-manggilnya. Tapi anjing betina berbulu hitam dengan susu besar-besar itu tak mau kembali dan menghilang di antara rumah penduduk dan tembok pekarangan Hotel Nugraha Utama.

Ada sepuluh menit aku menjaga anjing kecil itu sambil menunggu induknya kembali, tetapi anjing betina itu tak muncul juga. Si anjing kecil itu sendiri masih ketakutan dan berusaha menyelusup di antara sepatuku. Akhirnya, karena aku tidak bisa menunggu lebih lama, aku putuskan membawa anjing kecil itu pulang. Tetapi sebelumnya kutanyakan dulu kepada orang-orang di Toko Gayatry’s, bahwa siapa tahu di antara mereka ada yang tahu siapa pemilik anjing itu. Tak ada yang tahu. Mereka bahkan juga menyarankan kepadaku untuk membawanya pulang. Salah seorang karyawan toko itu memberiku kardus untuk tempat anjing itu, tapi kutolak. Lebih praktis anjing kecil itu kumasukkan ke dalam tas saja. Aku pulang.

Di rumah, istriku, Nunung, menyambut gembira. Aku ceritakan kejadian di jalan tadi, dan dia bersyukur anjing kecil itu tidak dilindas kendaraan. Lalu beberapa lama kami berpikir mencari nama untuknya. Dan karena warna bulunya mirip dengan Bandit, anjing kami yang hilang beberapa bulan lalu, akhirnya kami sepakat anjing kecil itu bernama Bandit Juga, dengan panggilan BeJ.

Tadi pagi, tanggal 18 Mei, sahabatku De’a Nuko Yogantara datang. Begitu melihat BeJ, dia langsung mengatakan bahwa jangan-jangan anjing kecil itu memang anak dari Bandit. Karena sebelum hilang beberapa bulan lalu, Bandit sempat terlihat jalan-jalan dengan anjing betina berbulu hitam di dekat kantor kami. Aku tidak begitu yakin, tetapi istriku malah sangat yakin. “Ya ya, lihatlah warna bulunya sangat mirip dengan Bandit. Dan, Bandit kan memang punya kecendrungan menebar benih di mana-mana,” ujar istriku dengan serius. Sialan!

Ya, sekarang Bandit Juga alias BeJ, menjadi keluarga kami, di bawah pengawasan dan asuhan dua anjing kami sebelumnya, Jose dan Bagong serta kucing kami Gendut.