Surat

Yang tercinta; Ibu di rumah.

Apa kabar Ibu? Semoga Ibu ananda jumpai dalam keadaan sehat sejahtera, berbahagia dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Demikian halnya ananda di sini juga dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.

Ibu yang ananda cintai. Betapa perasaan rindu melanda diri ananda saat ini. Rindu kepada Ibu, adik-adik dan kampung halaman kita yang senantiasa membuat ananda bahagia sepanjang hari. Alam pedesaan kita dengan hijau dedaunan sejauh mata memandang, keramahan sanak famili dan handaitaulan yang senantiasa sehangat matahari pagi, suara unggas dan ternak kita di kandang yang minta diberi makan, gemericik air parit di sebelah rumah, ah Ibu, semua itu membuat ananda tak sabar menunggu saat-saat pulang. Setiap malam ananda berharap agar hari-hari berlalu lebih cepat, di mana ananda mendapat liburan panjang dan segera pulang ke pangkuan Ibu.

Ibu yang tercinta, sekarang ananda....

DUA PULUH tahun yang lalu, rangkaian kata-kata itu masih sempat saya bacakan untuk seorang janda setengah baya di kampung saya. Seorang janda yang datang kepada saya untuk dibacakan surat dari anak perempuannya yang bersekolah di Singaraja. Biasanya, setiap tiga bulan sekali janda buta huruf yang ditinggal mati suaminya karena sakit paru-paru itu menerima surat dari anak perempuannya. Dia selalu meminta saya untuk membacakannya. Dan saya, entah kenapa selalu suka melakukan hal itu. Bahkan, diam-diam, saya sendiri ikut berdebar-debar menunggu kedatangan surat itu. Ada perasaan bahagia tersendiri membaca rangkaian kata-kata indah dengan tulisan tangan yang juga sangat rapi itu. Ya, surat-surat yang dikirim itu memang senantiasa berisi rangkaian kata-kata nan sangat indah, teratur serta sanggup membangkitkan perasaan sedimikian rupa, akrab, mesra dan menyejukkan.

Saya sendiri saat itu masih berumur belasan tahun. Dan terus terang, dari surat-surat yang dikirim gadis muda kepada ibunya itu saya senantiasa mendapat inspirasi untuk menulis surat kepada gadis sekampung yang saya jatuh cintai. Dari surat-surat yang saya bacakan untuk ibunya itu, bahkan lama-lama saya malah jatuh cinta kepada dia yang menulis surat itu sendiri. Sayang, dia dua tahun lebih tua dari saya, dan dia juga sudah memiliki pacar di kampusnya.

Itulah sebuah kenangan tentang “surat” yang hingga hari ini masih begitu melekat pada ingatan dan jiwa saya. Sepucuk surat, selembar atau dua lembar kertas yang pada jaman itu begitu terasa berarti, begitu sugestif sebagai sebuah silaturahmi antar dua badan dan dua jiwa yang terpisahkan oleh jarak. Dua puluh tahun yang lalu, sebuah surat yang dikirim dari jauh, rasanya begitu berharga dan (bahkan) sakral.

Tetapi itu dua puluh tahun yang lalu. Saya juga harus meninggalkan kampung halaman karena alasan pendidikan formal yang konyolnya menjadi tak begitu penting bagi saya. Lama sekali saya tak pulang. Sampai beberapa tahun yang lalu saya benar-benar pulang. Anehnya, kerinduan saya lebih besar kepada harapan untuk dapat membacakan surat untuk janda buta huruf di dekat rumah itu daripada rindu rumah sendiri. Saya bayangkan, betapa nanti saya akan disodori setumpuk surat yang dibawa janda itu untuk saya bacakan.

Tapi itu tak terjadi. Seiring perkembangan jaman, kampung saya juga ikut berkembang dan bergegas “maju”. Tidak begitu jauh dari rumah saya dan janda buta huruf itu, ternyata sudah ada sebuah wartel (warung telepon). Dan saya memergoki janda buta huruf yang kini sudah menjadi nenek-nenek renta itu tidak perlu lagi menunggu sepucuk surat dari anak-anaknya yang kini tinggal entah di mana, tetapi saya melihatnya suatu hari masuk ke wartel itu dan bicara dengan anaknya melalui telepon. Karena dia buta huruf, mungkin saja penjaga wartel yang menyambungkan nomor-nomor menuju tempat anaknya di belahan lain bumi sana. Saya ternyata tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk membacakan surat-surat dari anaknya itu karena memang tak ada lagi surat yang datang. Silaturahmi atau tumpahan rasa kangen antara ibu dan anak itu kini telah tersalurkan lewat telepon.

Jaman terus merangsek maju dan semakin canggih. Komunikasi tak lagi mempersoalkan jarak. Bahkan wartel yang ada di kampung kami itu sudah lama tak beroperasi karena tak lagi dipakai orang. Sudah tidak praktis lagi. Kini, orang-orang sudah beralih kepada sebuah alat komunikasi yang bentuknya kecil mungil dan relatif murah: handphone. Dan dengan alat yang “sederhana” ini pun setiap orang bisa mengirim atau menerima sebaris dua baris kalimat dalam hitungan detik, yang bernama pesan singkat (short massage) yang populer disebut SMS singkatan dari Short Massage Servise yang artinya layanan pesan singkat. He he he, betapa lucu sebenarnya ketika setiap orang bertanya: “Kamu sudah terima layanan pesan singkat (SMS) saya?

Tapi apa peduli saya dengan ujaran yang lucu itu? Hari ini saya hanya merasa rindu sekali dengan kehadiran sepucuk surat saja entah dari siapa. Saya rindu pada kata-kata yang ditulis dengan penuh perasaan lalu dikirim dengan penuh perasaan pula.