Senyum

“Kenapa anda selalu tersenyum?” tanya bocah delapan tahun itu. Lelaki dewasa yang klimis, perlente, dengan sorot mata penuh misteri tetapi dengan bentuk bibir tipis yang memang selalu kelihatan tersenyum itu pun menoleh perlahan. Beberapa detik mata mereka beradu pandang. Lalu lelaki dewasa itu menjawab: “Karena semua ini begitu menggelikan.”

Dialog pendek itu terjadi dalam sebuah upacara pemakaman. Dialog pendek itu terjadi dalam film “Road to Perdition” yang dibintangi Paul Newman dan Tom Hank. Sebuah film yang bercerita tentang kehidupan dalam lingkungan mafia Chicago tahun 1931. Sebuah film yang bercerita tentang bagaimana sebuah keluarga dihabisi demi menjaga keamanan sebuah “ikrar”. Keamanan sebuah sumpah setia atas pekerjaan atau jabatan dalam lingkungannya. Film itu (sebagaimana sebuah film) bercerita tentang harga diri, lalu dendam, lalu pembunuhan demi pembunuhan, lalu, kemanusiaan.

Sementara itu, di pinggir sebuah jalan di kota kecil tempat tinggal saya, seorang lelaki yang agak kumal, dengan rambut gondrong tak terurus juga terlihat selalu tersenyum atas apa yang melintas di depannya. Deru kendaraan, suara kecipak kaki kuda penarik dokar, lalu-lalang orang-orang dengan tujuan masing-masing, teriakan para penjual koran, burung-burung walet yang terbang rendah, goyangan daun albesia terelus angin...., semua disenyuminya. Sayang, (menurut orang-orang yang merasa dirinya waras), lelaki yang selalu tersenyum di pinggir jalan itu adalah orang gila. Pun bila ditanya, dia selalu menjawab: “Karena semua ini begitu menggelikan.”

“Senyum adalah bahasa cinta. Bahasa kasih. Bahasa kehidupan. Bahasa Tuhan,” ujar seorang penyair pada suatu senja di hadapan pacarnya. Tetapi toh tidak semua orang gila. Tetapi toh tidak semua orang yang selalu tersenyum itu sedang bercinta, berkasih-kasihan atau gembira. Teman saya pernah tersenyum hanya gara-gara tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia cuma tersenyum saja. Ia cuma tersenyum saja ketika dimarahi atasannya. Ia cuma tersenyum saja ketika istrinya mengomel soal harga-harga yang selalu melonjak. Ia cuma tersenyum saja ketika tetangganya mengadu suaminya selingkuh. Ia cuma tersenyum saja ketika di televisi para penjahat jalanan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar dan seterusnya ditangkapi polisi. Ketika ditanya kenapa selalu tersenyum, dia menjawab: “Mumpung tersenyum belum dilarang.”

Benar juga. Karena senyum tidak (belum) dilarang, maka marilah kita tersenyum. Marilah kita tersenyum saat berkawan. Marilah kita tersenyum saat bekerja. Marilah kita tersenyum saat kelaparan. Marilah kita tersenyum saat marah, saat sakit, saat sedih, saat geli, saat tidur, saat mimpi, saat mandi, saat menyikat gigi, saat dipukul, saat diberi, saat memberi, saat kecurian, saat mencuri, saat berdoa, saat dikhianati, saat... dan seterusnya. Marilah kita tersenyum melihat bagaimana negara ini diatur oleh para pemimpin kita. Marilah kita tersenyum saat ekonomi tak juga membaik. Marilah kita tersenyum saat hujan dan banjir bandang datang dan tanah-tanah longsor karena hutan digunduli. Marilah kita tersenyum saat kemarau menjadi terasa begitu panjang. Marilah kita tersenyum saat orang-orang berebut bikin partai. Tersenyumlah saat orang-orang baku-hantam dengan seribu satu alasan yang kini gampang dicari.

Marilah berderma dengan senyum. Dermakan senyum kita kepada orang-orang melarat. Dermakan senyum kita kepada para terpidana. Dermakan senyum kita kepada para teroris. Dermakan senyum kita kepada orang tua. Dermakan senyum kita kepada para pejabat yang karena sibuuuuuk sekali mereka jadi lupa diri. Dermakan senyum kita kepada para pencopet. Dermakan senyum kita kepada para wartawan. Dermakan senyum kita kepada anak-anak. Dermakan senyum kita kepada pohonan. Dermakan senyum kita kepada langit, udara, awan-awan, bintang-bintang, matahari, pesawat terbang yang melintas di atas kepala, layang-layang yang tersangkut di tiang listrik atau telepon atau ranting pohon.

Terserah, model senyum apa yang anda hendak dermakan. Senyum manis kepada orang yang dicinta, senyum kecut kepada orang-orang yang membuat jengkel, senyum pahit kepada malapetaka, senyum dikulum kepada mereka yang lucu-lucu, senyum kecil kepada nasib baik, senyum lebar kepada boss, senyum-senyum sendiri bila merasa perlu.

Dengan sering tersenyum berarti kita murah senyum. Murah senyum bukan berarti kita orang murahan. Kalau kita tersenyum kepada hidup dan kehidupan, barangkali hidup kita akan terasa lebih lapang. Apalagi kalau sempat tersenyum kepada Tuhan, niscaya wajah kita akan bertambah enak dilihat.